Aceh Barat Daya – Yayasan Ar-Ruhul Jadid Aceh, merupakan salah satu yayasan yang menaungi beberapa dapur MBG (Menu Bergizi Gratis) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menegaskan komitmennya untuk terus mengutamakan penggunaan produk lokal dalam menyajikan menu bergizi gratis di Kabupaten setempat.
Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Pimpinan Yayasan Ar-Ruhul Jadid Aceh, Ustadz Wahyudi, kepada media noa.co.i, Sabtu (22/11/2025).
Menurutnya, Dapur MBG dibawah naungan Yayasan Ar-Ruhul Jadid Aceh, sejak awal dirancang tidak hanya mendukung pemenuhan gizi gratis yang diprogramkan Pemerintah, tetapi juga untuk menggerakkan ekonomi daerah, khususnya pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Abdya.
“Semoga para pelaku UMKM Abdya dapat mendukung program MBG dengan menyediakan produk yang kami perlukan,” ujar Ustadz Wahyudi.
Diakuinya, Sejauh ini pihaknya masih menggunakan 90 persen produk berbahan tepung dari UMKM lokal. “Namun, yang masih menjadi kendala adalah pasokan bahan pangan berupa sayur dan buah.” katanya.
Ustadz Wahyudi menjelaskan bahwa pemilihan produk lokal bukan hanya soal efisiensi, tetapi bentuk nyata komitmen yayasan untuk memperkuat struktur ekonomi masyarakat.
“Kehadiran Dapur MBG harus menjadi ekosistem ekonomi yang saling menguntungkan antara yayasan dan pelaku UMKM dan penerimaan manfaat,” tegasnya.
Ia mengungkapkan bahwa bahan berbasis tepung dan berbagai kebutuhan produksi berbasis olahan kering sudah mampu dipenuhi oleh UMKM Abdya. Kualitas produk lokal, kata dia, tidak kalah bersaing dengan produk luar daerah.
“Kami ingin bergerak bersama masyarakat. Kami dari Dapur MBG menyediakan kebutuhan pangan setiap hari, maka akan lebih baik jika perputaran uangnya kembali ke masyarakat Abdya,” tambahnya.
Meski demikian, tantangan masih muncul pada sektor pasokan bahan segar, terutama sayur-mayur dan buah-buahan. Minimnya ketersediaan produk segar lokal dalam jumlah besar dan kualitas yang merata membuat pihaknya masih harus mencari alternatif suplai dari luar daerah.
Menurut penjelasan Ustadz Wahyudi, beberapa faktor yang menjadi kendala diantaranya, petani di Abdya belum mampu memasok sayur dan buah secara kontinyu dalam jumlah besar yang dibutuhkan Dapur MBG.
“Standar kelayakan bahan pangan untuk dapur produksi massal membutuhkan kualitas yang konsisten, yang kadang belum terpenuhi. Beberapa produk segar memerlukan penanganan pasca panen yang tepat agar tetap layak konsumsi,” sebutnya.
Pihaknya berharap ke depan ada lebih banyak petani lokal dan kelompok tani yang bisa bekerja sama dengan Dapur MBG. “Ini peluang besar yang bisa meningkatkan pendapatan masyarakat,” jelasnya.
Terakhir, Ustadz Wahyudi berharap pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait ikut mendorong ketersediaan produk pangan lokal, terutama yang berkaitan dengan produksi sayur dan buah.
“Kolaborasi antara petani, UMKM, Dapur MBG, Insya Allah akan menjadi kunci keberhasilan membangun kemandirian ekonomi Abdya,” katanya.
Ustadz Wahyudi juga membuka peluang bagi lebih banyak pelaku UMKM untuk menjalin kemitraan.
“Pintu kerja sama selalu terbuka. Kami siap membeli produk lokal selama kualitasnya terjaga dan mampu memenuhi kebutuhan dapur kami,” tegasnya.
Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar









