Home / Politik

Minggu, 1 Februari 2026 - 07:06 WIB

Eksekutif dan Legislatif Kunci Keberhasilan Mualem – Dek Fadh

mm Redaksi

Aktivis muda Aceh, Aminul Mukminin Sekedang alias Aseng Aceh, menyoroti polemik politik elit yang dinilai berdampak langsung pada rakyat. Foto: Dok. Istimewa

Aktivis muda Aceh, Aminul Mukminin Sekedang alias Aseng Aceh, menyoroti polemik politik elit yang dinilai berdampak langsung pada rakyat. Foto: Dok. Istimewa

Banda Aceh – Aktivis muda Aceh, Aminul Mukminin Sekedang yang akrab disapa Aseng Aceh, menyoroti dinamika politik Aceh yang belakangan mencuat ke ruang publik melalui media cetak dan online. Ia menilai polemik yang saling berbalas pernyataan antara pimpinan DPRA, anggota dewan, pengamat politik, hingga akademisi justru berpotensi merugikan rakyat akar rumput.

Aseng mengingatkan pengalaman politik Aceh pada periode 2012–2017, ketika Partai Aceh memegang mandat rakyat baik di eksekutif maupun legislatif. Namun, konflik internal pemerintahan dan gesekan antara eksekutif dengan DPRA kala itu menyebabkan banyak program tidak terealisasi, sehingga berdampak pada menurunnya kepercayaan publik dalam kontestasi politik berikutnya.

“Bukan soal siapa yang paling kuat, tapi saling menonjolkan kelemahan tanpa disadari justru melemahkan elektabilitas partai dan menghambat kerja pemerintahan,” ujar Aseng, alumni Universitas Muhammadiyah Aceh.

Baca Juga :  Tunaikan Janji Kampanye, Bupati Aceh Barat Salurkan Bantuan BBM untuk Tukang Becak

Ia menegaskan peran Sekretaris Daerah (Sekda) sangat strategis sebagai penghubung utama roda pemerintahan. Menurutnya, apabila posisi ini tidak berjalan optimal, maka realisasi janji politik Mualem–Dek Fadh akan terganggu karena eksekusi kebijakan berada di tangan eksekutif.

Selain itu, peran legislatif yang dipimpin Ketua DPRA juga tak kalah penting dalam mengawal dan memastikan program pemerintahan berjalan sesuai visi-misi. Oleh sebab itu, komunikasi, koordinasi, serta kapasitas tim inti di kedua lembaga menjadi kunci keberhasilan pemerintahan.

Aseng menekankan bahwa baik eksekutif maupun legislatif saat ini berada di bawah kendali Partai Aceh, sehingga perbedaan perspektif seharusnya diselesaikan secara internal melalui kajian geopolitik, geoekonomi, dan geoinfrastruktur, serta melibatkan mediator agar konflik tidak mencuat ke publik.

Baca Juga :  Semua Fraksi di DPRA Sepakat Pansus Tambang Dilanjutkan

“Apalagi Aceh sedang berduka, ribuan rakyat masih mengungsi, trauma belum pulih, ekonomi belum stabil, dan pengangguran masih tinggi. Jangan sampai konflik elit politik menambah beban rakyat,” tegasnya.

Mengutip prinsip Salus populi suprema lex esto, Aseng menyatakan kepentingan dan keselamatan rakyat harus ditempatkan di atas ego personal dan kelompok. Ia juga mengenang peran almarhum Abu Razak sebagai figur penengah yang mampu meredam konflik internal dengan kebijaksanaan.

“Konflik yang dibiarkan terbuka ke publik hari ini dan ke depan, yang paling dirugikan adalah rakyat, dan dalam jangka panjang akan memengaruhi elektabilitas Partai Aceh,” katanya.

Baca Juga :  Sulaiman Manaf: Otsus Tak Seberapa, Aceh Dimiskinkan

Kaula muda Aceh, lanjut Aseng, berharap adanya rekonsiliasi melalui tokoh kunci pengganti almarhum Abu Razak, sehingga perbedaan pandangan dapat diselesaikan secara legowo dan tidak menjadi konsumsi publik. Keberhasilan sinergi eksekutif dan legislatif menjadi penentu keberhasilan Mualem–Dek Fadh dalam mewujudkan Aceh Islami, maju, bermartabat, dan berkelanjutan.

“Persoalan ini merugikan rakyat dan tim sukses, sekaligus dimanfaatkan lawan politik. Perjuangan memenangkan mandat rakyat tidak semudah berbalas pantun di media. Kuncinya adalah bersinergi dan berjamaah untuk merealisasikan janji politik,” tutup Aseng.

Editor: Amiruddin. MK

Share :

Baca Juga

Parlementaria

DPRA Apresiasi TKD Aceh 2026 Tak Terdampak Efisiensi Anggaran Pemerintah Pusat

Politik

H Said Mulyadi Calon Kuat Bupati Pidie Jaya di Pilkada 2024

Politik

Satgas PASTI Berhasil Hentikan 13 Ribu Entitas Keuangan Ilegal, Mayoritas Pelapor Adalah Perempuan

Daerah

Pelatihan Tata Kelola Dana Hibah, KONI Aceh Hadirkan Mantan Deputi KPK

Politik

Mahasiswa Deklarasi Dukungan ke Sayuti Abubakar sebagai Calon Walikota

Politik

Jurnalis Aceh Didorong Kuasai AI, BI Aceh Gelar Forum Komunikasi di Sabang

Politik

Sulaiman Manaf Desak Mualem: Hentikan Monopoli Pertamina, Aceh Harus Kelola Migas Sendiri!

Daerah

Panwaslih Pidie Jaya Tutup Mata Terhadap Pelanggaran Pilkada