Aceh Utara – Empat hari sejak tahun ajaran baru dimulai, seorang anak yatim di Gampong Bayi, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, belum dapat mengenyam pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) akibat keterbatasan ekonomi. Kondisi tersebut menggugah kepedulian Organisasi Masyarakat Gerakan Masyarakat Nusantara (GEMANTARA) Aceh Utara yang segera turun tangan memberikan bantuan, Kamis (16/7/2026).
Anak tersebut bernama Nur Haliza, yang telah menyelesaikan pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD). Namun, sejak ayahnya meninggal dunia delapan tahun lalu, sang ibu, Rosna, yang berstatus sebagai janda, tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk melanjutkan pendidikan putrinya.
Mengetahui kondisi tersebut, Rosna menghubungi GEMANTARA Aceh Utara dan menyampaikan harapannya agar sang anak dapat memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan.
Merespons laporan itu, Ketua GEMANTARA Aceh Utara Iskandar, S.Kom., MSM bersama jajaran langsung menjemput Nur Haliza untuk dibawa ke Dayah Raudhatul Huda di Gampong Cibrek, Kecamatan Tanah Luas. Di dayah tersebut, Nur Haliza akan memperoleh pendidikan agama dan pendidikan umum secara layak.
Dalam proses penjemputan turut hadir perwakilan GEMANTARA Provinsi Aceh serta dukungan dari Grup Aceh Meutuah yang berada di Malaysia.
Dayah Raudhatul Huda yang diasuh oleh Abi Muhammad Dian saat ini membina sekitar 195 anak yatim, anak terlantar, dan fakir miskin. Seluruh kebutuhan operasional dayah dipenuhi melalui dukungan para donatur yang secara konsisten memberikan bantuan.
Ketua GEMANTARA Aceh Utara, Iskandar, S.Kom., MSM, mengatakan bahwa pihaknya tidak ingin ada anak yang kehilangan masa depan hanya karena faktor ekonomi.
“Melihat kondisi tersebut, kami langsung bergerak memberikan bantuan dan pendampingan agar Nur Haliza dapat kembali melanjutkan pendidikan. Bantuan ini bukan hanya meringankan beban ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi bukti bahwa masih banyak masyarakat yang peduli terhadap masa depan anak-anak yang kurang beruntung,” ujarnya.
Suasana haru menyelimuti proses penjemputan. Tangis bahagia dari keluarga tak terbendung ketika harapan yang sempat pupus akhirnya kembali hadir melalui uluran tangan berbagai pihak.
Kisah Nur Haliza menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan sebagaimana dijamin oleh negara. Namun, kenyataan di lapangan masih menunjukkan adanya anak-anak, khususnya yatim dan keluarga kurang mampu, yang belum dapat menikmati hak tersebut karena keterbatasan ekonomi.
Melalui momentum ini, GEMANTARA berharap pemerintah, khususnya pemerintah gampong, lebih peka dan aktif mendata masyarakat yang membutuhkan, sehingga tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan bersekolah akibat persoalan ekonomi.
“Kami berharap pemerintah gampong lebih jeli melihat kondisi masyarakatnya. Jangan sampai masih ada anak yatim yang terpaksa putus sekolah karena tidak mampu. Pendidikan adalah hak setiap anak dan menjadi tanggung jawab kita bersama,” tutup Iskandar.
Editor: Amiruddin. MK














