Aceh Barat Daya – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh Barat Daya mendorong Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya agar segera memperkuat sektor perhotelan menjelang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-38 Tingkat Provinsi Aceh tahun 2027.
Wakil Ketua Kadin Aceh Barat Daya, Elizar Lizam atau Adun, bersama pengurus Kadin lainnya, RS Darmansyah atau Cek Dar, menyampaikan dorongan tersebut kepada wartawan, Senin (26/1/2026).
Menurut mereka, kesiapan akomodasi menjadi penentu kelancaran MTQ. Tanpa persiapan sejak dini, Aceh Barat Daya berpotensi mengalami kekurangan kamar.
Adun mengatakan, MTQ Aceh 2027 bukan sekadar agenda keagamaan. Kegiatan ini juga menjadi ajang pembuktian kesiapan daerah sebagai tuan rumah kegiatan berskala provinsi.
“MTQ akan menghadirkan kafilah, dewan hakim, panitia, tamu undangan, serta masyarakat dari seluruh Aceh. Pemerintah daerah harus memastikan seluruh tamu mendapatkan tempat menginap yang layak,” kata Adun.
Ia menilai, langkah paling realistis saat ini ialah mendorong perbankan agar menyalurkan kredit usaha kepada pengusaha perhotelan. Pemerintah daerah, kata dia, perlu berperan sebagai fasilitator.
“Pengusaha hotel membutuhkan dukungan modal. Pemerintah harus membuka ruang komunikasi dengan perbankan agar kredit usaha bisa segera disalurkan,” ujarnya.
Adun menegaskan, pengembangan hotel tidak bisa dilakukan secara cepat. Penambahan kamar membutuhkan perencanaan, perizinan, serta biaya yang cukup besar.
“Kalau menunggu mendekati 2027, waktunya sudah sangat mepet,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keterbatasan kamar dapat berdampak langsung pada citra daerah. Tamu MTQ, menurutnya, harus merasa nyaman selama berada di Aceh Barat Daya.
“Pelayanan akomodasi mencerminkan kesiapan tuan rumah. Ini soal nama baik daerah,” kata Adun.
Cek Dar menyampaikan pandangan serupa. Ia meminta pemerintah daerah tidak menunda kebijakan dukungan permodalan bagi sektor perhotelan.
“Pengusaha butuh waktu untuk membangun dan menambah kamar,” kata Cek Dar.
Ia menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 15 hotel, motel, dan guest house di Aceh Barat Daya. Seluruhnya masih memiliki peluang untuk dikembangkan.
Menurut Cek Dar, penambahan lima hingga sepuluh kamar per penginapan sudah cukup membantu kebutuhan MTQ.
“Kalau setiap hotel menambah lima kamar, sudah ada sekitar 75 kamar tambahan. Kalau bisa sepuluh kamar, tentu lebih ideal,” ujarnya.
Ia menilai jumlah tersebut dapat mengurangi ketergantungan pada penginapan di luar daerah. Hal ini penting agar aktivitas MTQ tetap terpusat di Aceh Barat Daya.
“Kita ingin tamu MTQ menginap di Abdya, bukan harus mencari kamar ke daerah lain,” katanya.
Cek Dar juga menyoroti dampak ekonomi dari pengembangan perhotelan. Menurutnya, penambahan kamar akan menggerakkan sektor lain di daerah.
“Hotel berkembang, usaha kuliner ikut bergerak. Transportasi hidup. UMKM juga mendapat manfaat,” jelasnya.
Ia menegaskan, investasi di sektor perhotelan tidak berhenti setelah MTQ berakhir. Kamar tambahan tetap bisa digunakan untuk kegiatan lain.
“Setelah MTQ, hotel-hotel ini tetap melayani wisatawan, kegiatan pemerintah, dan event daerah,” ujarnya.
Kadin Aceh Barat Daya berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret.
“Persiapan MTQ di Kabupaten Abdya ini dilakukan dengan perencanaan matang. Jangan sampai persoalan akomodasi menjadi kendala,” kata Cek Dar.
Ia optimistis Aceh Barat Daya mampu menjadi tuan rumah MTQ Aceh 2027 yang sukses jika seluruh pihak bergerak sejak dini.
“Dengan dukungan pemerintah, perbankan, dan pelaku usaha, Abdya bisa menyambut MTQ dengan kesiapan penuh,” pungkasnya.
Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar









