Home / Daerah / Pemerintah

Selasa, 21 April 2026 - 22:01 WIB

Kepala Posko Wilayah Satgas PRR Dampingi Mendagri Kunjungan ke Bener Meriah dan Aceh Tengah

mm Redaksi

Mendagri Tito Karnavian didampingi Safrizal ZA dan sejumlah pejabat meninjau jembatan bailey pascabencana di Bener Meriah, Senin (20/4/2026). Foto: Dok. Istimewa

Mendagri Tito Karnavian didampingi Safrizal ZA dan sejumlah pejabat meninjau jembatan bailey pascabencana di Bener Meriah, Senin (20/4/2026). Foto: Dok. Istimewa

Takengon – Kepala Pos Komando Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Dr. Safrizal ZA, Senin, 20 April 2026, mendampingi kunjungan kerja Ketua Satgas PRR Pasca-bencana Sumatra, Dr. Tito Karnavian, ke Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Tito Karnavian dan Safrizal tiba ke Tanoh Gayo, pada siang hari. Mereka dan rombongan mendarat di Bandara Rembele, Kampung Bale Atu, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Aceh.

Tidak lama berada di Bandara Rembele, Mendagri Tito Karnavian dan Dirjen Bina Adil Kemendagri, Safrizal, didampingi Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fadh), Bupati Bener Meriah Tagore Abubakar, dan sejumlah pejabat lokal lainnya, bergerak ke jembatan bailey di dekat Batalyon 114/Satria Muara, Bener Meriah.

Jembatan itu dibangun di atas longsoran tanah yang digerus air hujan yang turun satu minggu penuh pada November 2025. Sebelum banjir dan tanah longsor, di tempat tersebut tidak ada sungai. Sekarang sudah ada sungai dan harus dibangun jembatan.

Baca Juga :  Pj Bupati Nobatkan Kamal Kurnia Hasan dan Maghfirah Duta Wisata Aceh Besar 2023

Setelah dari sana rombongan menuju ke Huntara Tunyang, tempat penampungan penyintas banjir dan tanah longsor yang berlokasi di Kecamatan Timang Gajah.

Setibanya di sana, Mendagri Dr. Tito Karnavian memberikan pidato di hadapan ratusan warga yang berkumpul di aula huntara yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Huntara itu menampung 222 kepala keluarga.

Dalam pidatonya Ketua Satgas PRR menyampaikan pemerintah bekerja keras memulihkan kondisi pasca-bencana. Untuk warga yang kehilangan rumah atau rumahnya rusak berat, pemerintah memberikan tiga skema pembangunan.

Pertama, pemilik rumah diberikan kesempatan membangun rumahnya secara mandiri. Pemerintah memberikan uang Rp60 juta. Ada aturab yang telah ditetapkan supaya skema tersebut dapat berjalan lancar.

Kedua, pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan membangun rumah untuk warga. Anggarannya tetap Rp60 juta.

Baca Juga :  TNI AL Salurkan Bantuan Korban Banjir Bandang di wilayah terisolasi  

Ketiga, bagi yang tidak lagi memiliki tanah, atau tanahnya tidak layak lagi digunakan, disediakan pilihan relokasi terpusat. Lahan yang digunakan milik pemerintah. Seperti lalah pemerintah desa, kabupaten, provinsi, Pusat, maupun lahan Hak Guna Usaha/sejenisnya.

Saat Tito sedang berpidato, Bupati Bener Meriah Tagore Abubakar bangun dari tempat duduknya. Setelah meminta izin kepada Tito, ia menyampaikan sebagai pribadi, dia menghibahkan tanahnya di Mesidah untuk warga yang kehilangan kebunnya dalam bencana pada akhir 2025.

Tepuk tangan membahana. Mendagri memberikan apresiasi. Dirjen Bina Adwil bertepuk tangan. Mereka bahagia melihat kepedulian Tagore terhadap warganya.

Setelah berpidato, Tito menyerahkan bantuan alat dapur secara simbolis. Kemudian secara berturut-turut Wagub Aceh Fadhlullah, Dirjen Bina Adwil Safrizal, menyerahkan juga secara simbolis.

Setelah keluar dari huntara Tunyang, rombongan bergerak ke lokasi erosi bawah permukaan di Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Groundbreaking Proyek Strategis IKN, PLN Hadirkan Listrik Tanpa Kedip

Dari paparan petugas di sana, erosi bawah tanah tersebut sampai dengan saat ini masih terjadi. Mereka telah melakukan sejumlah antisipasi, seperti memindahkan jalur irigasi, dan aktivitas teknik lainnya. Alhamdulillah, saat ini laju longsoran sudah bisa dihambat.

Secara terpisah, Kepala Posko Wilayah PRR Dr. Safrizal mengatakan Pemerintah Pusat terus bekerja keras untuk memulihkan daerah-daerah terdampak bencana hidrometeorologi Sumatra.

Pembangunan kembali telah didokumentasi dalam rencana induk (renduk) yang telah disusun secara bersama-sama dengan melibatkan semua unsur terkait.

“Mohon doanya dari seluruh rakyat, supaya setelah ini, pemerintah segera bisa melaksanakan tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh. Butuh waktu hingga tiga tahun untuk menuntaskan seluruhnya. Mari kita bergandengan tangan, saling membantu dan saling berkolaborasi, “ Kata Safrizal.

Editor: Amiruddin. MK

Share :

Baca Juga

Internasional

Kemenko Polkam bersama Delegasi Staf Kongres AS Bahas Penguatan Kemitraan Strategis

Nasional

Menkopolkam Apresiasi Kualitas Dan Gizi Makanan kepada Para Murid

Daerah

Kemenkum Aceh Berkomitmen Perkuat Sistem Pemberantasan Pungli 

Daerah

10 Februari, Pelayanan keimigrasian Di MPP Pasar Aceh Dialihkan ke kantor baru

Daerah

Diduga terlibat jaringan terorisme, Dua ASN di Aceh diamankan Densus 88

Aceh Barat

Aceh Barat Siap Ikut PKA Ke-8 di Banda Aceh

Daerah

Material Batu Gunung Akibat Longsor di Desa Layeun Aceh Besar Mulai Dibersihkan

Daerah

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Pastikan Ketersediaan Pasokan Energi Selama Ramadan dan jelang Idulfitri