Aceh Barat Daya – Operasional Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) membuka peluang ekonomi baru bagi petani dan pelaku usaha lokal.
Tingginya kebutuhan bahan pangan, terutama sayur-mayur, mendorong masyarakat untuk mulai mengambil peran sebagai pemasok utama.
Salah satu komoditas dengan permintaan tinggi adalah mentimun. Kebutuhan komoditas ini mencapai puluhan ribu buah setiap bulan seiring bertambahnya jumlah dapur MBG yang beroperasi.
Tokoh masyarakat sekaligus penggerak komunitas, Elizar Lizam, menjelaskan bahwa kebutuhan mentimun saat ini sangat besar. Ia menyebut satu dapur MBG memerlukan lebih dari 1.500 buah mentimun setiap minggu.
“Jika dikalikan dengan 16 dapur yang sudah berjalan, maka kebutuhan mencapai sekitar 24.000 buah per minggu,” kata Elizar Lizam kepada media, Selasa (10/2/2026).
Dalam skala bulanan, angka tersebut meningkat signifikan. Selama empat minggu, kebutuhan mentimun mencapai sekitar 96.000 buah.
Elizar menambahkan, kebutuhan itu berpotensi bertambah dalam waktu dekat. Jika jumlah dapur meningkat menjadi 23 unit, maka permintaan mentimun bisa menembus sekitar 138.000 buah per bulan.
Elizar menilai tingginya kebutuhan tersebut sebagai peluang ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat Abdya. Menurutnya, permintaan yang stabil setiap minggu dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi petani.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak membiarkan pemasok dari luar daerah mendominasi pasar lokal.
“Kita jangan sampai petani di kampung kebingungan, sementara pemasok dari luar yang mengambil keuntungan,” tegasnya.
Selain mentimun, dapur MBG juga membutuhkan berbagai komoditas lain seperti semangka, daun ubi, kacang panjang, kacang tanah, dan sayuran lokal lainnya.
“Artinya, peluang ekonomi yang terbuka tidak hanya untuk satu jenis tanaman, tetapi untuk banyak komoditas pertanian,” ujarnya.
Elizar mengajak aparatur gampong, kelompok tani, dan pelaku UMKM untuk mulai memetakan potensi produksi di wilayah masing-masing.
Ia juga menekankan pentingnya pengaturan pola tanam yang berkelanjutan agar pasokan tetap stabil setiap minggu.
Selain itu, masyarakat dapat membentuk kelompok pemasok di tingkat gampong atau kecamatan. Melalui kelompok tersebut, koordinasi produksi dan distribusi dapat berjalan lebih efektif.
Komunikasi langsung dengan pengelola dapur MBG perlu dilakukan. Hal ini bertujuan untuk memastikan standar kualitas serta jadwal pengiriman sesuai kebutuhan.
“Kalau dikelola dengan baik, program ini bisa menjadi penggerak ekonomi desa dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” kata Elizar.
Elizar juga mendorong pemerintah daerah dan dinas terkait untuk memberikan pendampingan kepada petani. Dukungan tersebut dapat mencakup perencanaan produksi, penyediaan bibit, hingga penguatan sistem distribusi.
Ia berharap masyarakat melihat program ini tidak hanya sebagai kegiatan konsumsi, tetapi juga sebagai peluang produksi yang mampu menggerakkan ekonomi daerah.
“Jika masyarakat bergerak bersama, perputaran ekonomi bisa terjadi di Abdya sendiri,” tambahnya.
Elizar berharap masyarakat segera merespons peluang yang terbuka melalui langkah nyata. Kolaborasi antara petani, aparatur gampong, pelaku usaha, dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan pemanfaatan program MBG.
“Ini kesempatan besar bagi kita. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan kesiapan dan kerja sama,” pungkas Elizar Lizam.
Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar













