Home / Aceh Barat Daya

Sabtu, 20 Desember 2025 - 18:55 WIB

Ricuh di Semifinal Piala Bupati Abdya, Rawa Sakti Menang WO 0-5

mm Teuku Nizar

Ricuh, terlihat sejumlah suporter tim BOM H meluapkan emosi kepada wasit yang sudah diamankan panitia ke dalam ruangan di tribun lapangan Persada Blangpidie. Foto. Dok. Teukunizar/NOA.co.id

Ricuh, terlihat sejumlah suporter tim BOM H meluapkan emosi kepada wasit yang sudah diamankan panitia ke dalam ruangan di tribun lapangan Persada Blangpidie. Foto. Dok. Teukunizar/NOA.co.id

Aceh Barat Daya — Pertandingan semifinal Piala Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) antara BOM H Kecamatan Blangpidie melawan Rawa Sakti FC dari Kecamatan Susoh dilapangkan Persada Blangpidie, Desa Keude Siblah berakhir ricuh dan harus dihentikan sebelum waktu normal usai.

Laga yang berlangsung pada Sabtu (20/12/2025) sejak menit awal sudah panas itu diwarnai protes keras terhadap keputusan wasit, hingga berujung walk out (WO) dari tim BOM H dan kemenangan telak 0-5 untuk Rawa Sakti sesuai keputusan panitia.

Kericuhan terjadi pada menit ke-55 babak kedua, saat tim BOM H melayangkan protes terhadap kepemimpinan wasit tengah Aan Harun.

Protes dipicu oleh keputusan wasit yang tidak meniup peluit meski pemain Rawa Sakti dinilai melakukan handball di dalam kotak penalti oleh pihak BOM H.

Ketidakpuasan tersebut memuncak ketika sejumlah ofisial tim BOM H bersama sejumlah suporter masuk ke dalam lapangan pertandingan dan secara emosional mengejar wasit.

Situasi pun menjadi tidak terkendali, memaksa petugas keamanan turun tangan untuk mengamankan wasit agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Baca Juga :  Terkait Penjabat Bupati Abdya, Akmal Al-Qarasie: Darmansyah Harga Mati

Saat insiden berlangsung, skor pertandingan masih 0-1 untuk keunggulan Rawa Sakti. Namun, di tengah kekacauan tersebut, bola masih berada dalam penguasaan pemain Rawa Sakti.

Kondisi ini dimanfaatkan dengan baik oleh tim asal Kecamatan Susoh itu, yang berhasil mencetak gol tambahan, sehingga skor berubah menjadi 0-2.

Pertandingan semakin memanas karena aksi protes tidak kunjung mereda. Sejumlah pemain dan ofisial BOM H terlihat terus melayangkan keberatan, sementara wasit dan perangkat pertandingan telah diamankan oleh pihak keamanan.

Menariknya, laga semifinal yang berujung ricuh ini disaksikan langsung oleh Bupati Aceh Barat Daya, Safaruddin, yang berada di tribun penonton bersama masyarakat.

Kehadiran kepala daerah tersebut membuat insiden ini menjadi sorotan publik, baik di dalam stadion maupun di luar lapangan.

Akibat keributan yang berkepanjangan, tim BOM H akhirnya memutuskan untuk keluar dari lapangan pertandingan dan menolak melanjutkan laga. Panitia pelaksana pun mengambil sikap tegas dengan menyatakan BOM H walk out (WO).

Baca Juga :  DPRK Abdya Soroti Data Penerima Bantuan Sosial, Minta Pemkab Lakukan Pendataan Ulang Hingga Level Dusun

Berdasarkan regulasi turnamen, panitia menetapkan Rawa Sakti sebagai pemenang dengan skor 0-5, sekaligus memastikan langkah mereka ke partai final Piala Bupati Aceh Barat Daya.

Sementara itu, susunan perangkat pertandingan yang memimpin laga tersebut terdiri dari Aan Harun sebagai wasit tengah, dibantu Zakaria sebagai asisten wasit I (hakim garis) dan Evi Firmanda sebagai asisten wasit II.

Menanggapi polemik yang berkembang, Ketua Asosiasi Wasit Aceh Barat Daya, Zakaria, memberikan klarifikasi terkait keputusan wasit yang memicu protes keras dari tim BOM H.

Ia menegaskan bahwa tidak terjadi pelanggaran handball sebagaimana yang dituduhkan.

“Dugaan handball itu tidak benar. Berdasarkan aturan terbaru dalam Laws of the Game, jika bola terlebih dahulu mengenai badan pemain sebelum menyentuh tangan dan bukan tangan yang secara aktif menyentuh bola, maka itu tidak bisa dikategorikan sebagai handball,” tegas Zakaria.

Zakaria juga menyebutkan bahwa pemahaman aturan tersebut telah disampaikan sebelumnya kepada seluruh tim peserta.

“Hal ini sudah kami sampaikan secara jelas saat technical meeting, dan aturan tersebut disetujui bersama oleh seluruh tim. Jadi wasit mengambil keputusan sesuai dengan regulasi yang berlaku,” ujarnya.

Baca Juga :  Tuha Peut PA/KPA Abdya Meluruskan Berita Simpang Siur di Partai Aceh

Ia menambahkan, asosiasi wasit menyayangkan terjadinya tindakan anarkis dan masuknya ofisial ke lapangan, karena hal tersebut bertentangan dengan semangat sportivitas dan dapat mencederai dunia sepak bola daerah.

“Keputusan wasit adalah bagian dari permainan. Jika ada keberatan, seharusnya disampaikan melalui mekanisme resmi, bukan dengan cara-cara yang justru memperkeruh suasana pertandingan,” tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak panitia pelaksana belum mengumumkan apakah akan ada sanksi tambahan terhadap tim BOM H maupun evaluasi lanjutan terhadap jalannya pertandingan semifinal tersebut.

Namun, insiden ini menjadi catatan serius bagi penyelenggaraan turnamen, terutama terkait pengamanan dan pengendalian emosi ofisial serta pemain di lapangan.

Kericuhan ini pun memantik beragam reaksi dari pecinta sepak bola Aceh Barat Daya, yang berharap turnamen bergengsi tersebut tetap menjunjung tinggi fair play, sportivitas, dan penghormatan terhadap keputusan wasit.

Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar

Share :

Baca Juga

Aceh Barat Daya

Aneuk Syuhada Kecam Penghancuran Rumoh Geudong

Aceh Barat Daya

Bukan OTK, Ternyata Bupati Abdya Perintahkan Blokir Jalan Menuju Kantor Cabdin Pendidikan Aceh

Aceh Barat Daya

499 Orang Tenaga Fungsional Guru dan Kesehatan Terima SK PPPK

Aceh Barat Daya

Peringati HKN, Ini Yang Dilakukan Puskesmas Rawat Inap Babahrot

Aceh Barat Daya

Babinsa Bantu Tangani Lalulintas Dilokasi Banjir

Aceh Barat Daya

Ketua Ormas GRIB Jaya Kecam Aksi Main Kaki Penjabat Bupati 

Aceh Barat Daya

Melestarikan Budaya, TP PKK Padang Bak Jok Selenggarakan Lomba Adat

Aceh Barat Daya

Direktur YLBH-AKA Terpilih Jadi Ketua DPD Perindo Abdya