Home / Opini

Jumat, 6 Juni 2025 - 03:02 WIB

Sepaket Nasi dan Ikan Goreng, Kebaikan Meugang di Hari Raya Idul Adha

mm Redaksi

Foto : Ilustrasi

Foto : Ilustrasi

Penulis : Kas Pani

Pagi itu, jalanan terasa lengang. Sebagian besar warung makan tutup, pemiliknya sibuk mempersiapkan hari Meugang Idul Adha bersama keluarga.

Tapi bagi aku dan Eti, sarapan bukan sekadar rutinitas. Sarapan pagi adalah kebutuhan, terutama bagi yang harus minum obat.

“Warung mana lagi yang buka hari ini? “gumamku, menatap deretan kedai yang masih mengunci pintu. Perut keroncong, tapi yang lebih penting adalah obat yang harus segera diminum setelah makan.

Saya singgah ke sebuah warung yang menjual pisang, sekedar alasan untuk menanyakan apa ada jual nasi. Tiba-tiba, ibu pemilik warung berjalan mendekat, rambutnya sudah beruban, tapi senyumnya hangat seperti mentari pagi.

Baca Juga :  Eksistensi UU Kejaksaan Vs UU KPK, Memperkuat Kewenangan Kejaksaan Menangani Kasus Korupsi

“Cari sarapan, Nak?” tanyanya. Aku mengangguk.

Tanpa banyak bicara, ia mempersilakan aku menunggu. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan membawa sebungkus nasi putih masih hangat dan dua potong ikan goreng renyah.

“Buat keluarga, ya,” katanya, menyodorkan bungkusan itu.

Aku terdiam sejenak, menatap matanya yang berbinar. “Berapa, Bu?” tanyaku.

Ia hanya geleng-geleng kepala, tersenyum. “Nggak usah, Nak. Hari baik, berbagi rezeki.”

Dalam sebungkus nasi dan dua potong ikan goreng itu, terkandung lebih dari sekadar makanan. Ada ketulusan, ada rasa peduli yang langka di tengah wajah yang penuh napsa-napsi. Di hari ketika banyak orang sibuk dengan persiapan kurban, seorang ibu memilih untuk berbagi dengan cara sederhana, memberi makan orang yang kesulitan memperoleh makanan.

Baca Juga :  Saya Tahu, Siapa Dia. Walau Dia tak Tahu Saya

Saat seperti ini, aku pun teringat pesan Idul Adha, terutama tentang pengorbanan, tentang berbagi, tentang kepedulian. Ibu itu mungkin tidak menyembelih kambing atau sapi, tapi ia telah “berkurban” dengan caranya sendiri, memberi apa yang ia punya kepada yang membutuhkan.

Baca Juga :  Murad dari Kalem jadi Kelam dan kembali Kalem

Kadang, kebaikan tidak perlu menunggu momentum besar. Ia bisa hadir dalam hal-hal kecil, sebungkus nasi, senyuman tulus, atau tawaran bantuan tanpa diminta. Di tengah hingar-bingar kehidupan, momen seperti ini mengingatkan kita bahwa manusia tetap butuh manusia, bahwa di mana pun, selalu ada ruang untuk kebaikan.

Dan pagi itu, aku pulang bukan hanya dengan perut kenyang, tapi juga hati yang hangat.

“Barangsiapa memberi makan orang yang lapar, maka Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan surga.” Aku ingat bunyi redaksi sebuah hadist.

Share :

Baca Juga

Daerah

Aceh Tanpa Ulee Balang : Ketika Sejarah Direkayasa dan Peradaban Dipersempit oleh Tafsir Politik

Opini

Money Politik dalam Perspektif Islam: Praktik Terlarang yang Merusak Moral dan Keadilan

Opini

Harga Minyak Goreng Melambung di Pasaran

Opini

Semangat Ramadan: Cerminan Semangat Mengembangkan Perekonomian di Aceh

Opini

Rekomendasi Demi Mewujudkan Mimpi Teluk Surin-Barsela

Opini

PORA 2026 dan Masa Depan Prestasi Aceh: Menjaga Skedul, Menjaga Pembinaan, Menjaga Marwah Olahraga Daerah

Internasional

Indonesia dan Pengungsi Rohingya

Opini

Menjaga Ruh Keistimewaan: Ketika Lembaga Keistimewaan Bungkam di Hari Damai Aceh