Banda Aceh – Tarmizi Age, mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang pernah berada di Denmark, akrab disapa Almukarram, sekaligus inisiator Aceh Goet, menyampaikan gagasan agar pemerintah Indonesia membangun Pelabuhan Tol Laut Internasional di Sabang, Aceh, sebagai pintu gerbang perdagangan maritim Indonesia menuju Eropa, Katanya, Selasa (3/11/2026)
Menurut Tarmizi, letak geografis Aceh yang berada di ujung paling barat Indonesia memiliki potensi strategis dalam pengembangan jalur perdagangan internasional. Kota Sabang di Pulau Weh, serta pulau-pulau terluar seperti Pulau Rondo dan Pulau Benggala, merupakan bagian dari kawasan terdepan Indonesia yang memiliki posisi penting dalam jalur pelayaran internasional.
“Sabang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pelabuhan internasional yang menghubungkan perdagangan Indonesia dengan Eropa. Posisi geografis Aceh harus bisa dimanfaatkan menjadi kekuatan ekonomi nasional,” ujar Tarmizi Age.
Ia menjelaskan, pelabuhan tol laut internasional merupakan simpul kegiatan bongkar muat barang berskala besar, ekspor-impor, serta pelayanan pelayaran lintas negara dan benua.
Dengan adanya pelabuhan internasional di Sabang, berbagai komoditas unggulan dari daerah-daerah di Indonesia dapat dikonsolidasikan melalui pelabuhan tersebut sebelum dikirim ke pasar Eropa. Sebaliknya, barang-barang dari Eropa juga dapat masuk dan didistribusikan ke berbagai wilayah Indonesia.
Tarmizi menilai, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan beragam produk unggulan yang berpotensi menembus pasar Eropa. Karena itu, diperlukan infrastruktur pelabuhan dan konektivitas maritim yang mampu mendukung kelancaran arus perdagangan internasional.
“Bayangkan jika pelabuhan-pelabuhan di seluruh Indonesia dapat mengirimkan hasil produksi dan komoditasnya melalui Sabang untuk selanjutnya dipasarkan ke negara-negara Eropa. Ini tentu dapat membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi Indonesia,” katanya.
Menurutnya, pembangunan Pelabuhan Tol Laut Internasional Sabang tidak hanya berorientasi pada peningkatan aktivitas ekspor dan impor, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi memperkuat stabilitas ekonomi nasional, meningkatkan daya saing perdagangan, serta memperluas hubungan ekonomi Indonesia dengan negara-negara lain.
Selain manfaat perdagangan, pengembangan pelabuhan internasional tersebut juga berpotensi mendorong pertumbuhan industri maritim, termasuk jasa pelayaran, transportasi laut, pergudangan, logistik, dan industri pendukung lainnya.
“Jika pelabuhan ini terwujud, tentu akan membutuhkan banyak tenaga kerja, mulai dari sektor pelayaran, bongkar muat, pergudangan, transportasi hingga berbagai usaha pendukung. Masyarakat Aceh juga harus mendapatkan manfaat langsung dari pembangunan tersebut,” ungkapnya.
Ia berharap, keberadaan Pelabuhan Tol Laut Internasional Sabang nantinya tidak hanya menjadikan Aceh sebagai jalur transit perdagangan internasional, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekonomi lokal dan memperkuat konektivitas laut Aceh dengan berbagai daerah di Indonesia.
Tarmizi Age menegaskan, gagasan ini perlu menjadi perhatian pemerintah pusat sebagai bagian dari perencanaan pembangunan maritim nasional. Sabang diharapkan dapat dikembangkan menjadi salah satu simpul perdagangan internasional yang menghubungkan potensi ekonomi Indonesia dengan pasar Eropa.
“Sudah saatnya Indonesia melihat Sabang bukan hanya sebagai wilayah paling barat negara, tetapi sebagai salah satu pintu strategis perdagangan Indonesia ke dunia internasional,” tutup Tarmizi Age.
Editor: Amiruddin. MK















