Home / Advetorial / Banda Aceh / Kesehatan

Kamis, 4 Juni 2026 - 21:27 WIB

Wilayah Kerja Kuta Alam Catat Kasus TBC Tertinggi di Banda Aceh

mm Redaksi

Ilustrasi pasien mengantre di salah satu layanan kesehatan di Banda Aceh. Foto: Dok. Istimewa

Ilustrasi pasien mengantre di salah satu layanan kesehatan di Banda Aceh. Foto: Dok. Istimewa

Banda Aceh – Wilayah kerja Puskesmas Kuta Alam menjadi daerah dengan temuan kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi di Kota Banda Aceh pada 2025 lalu. Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mencatat sebanyak 797 kasus ditemukan di wilayah tersebut, jauh lebih tinggi dibandingkan kecamatan lainnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, mengatakan tingginya angka kasus di wilayah kerja Kuta Alam berasal dari akumulasi pelayanan berbagai fasilitas kesehatan yang berada dalam cakupan wilayah tersebut, termasuk rumah sakit, klinik, dan dokter praktik mandiri.

Ilustrasi orang penderita TBC. Foto: Dok. Istimewa

“Jika dilihat dari wilayah kerja puskesmas yang mencakup rumah sakit, klinik, dan dokter praktik mandiri, kasus tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Kuta Alam sebanyak 797 kasus,” kata Wahyudi, Kamis (4/6/2026).

Baca Juga :  Kapolda Aceh dan PJU Vaksin Booster Dosis II

Setelah Kuta Alam, wilayah dengan jumlah kasus terbanyak berikutnya adalah wilayah kerja Puskesmas Banda Raya dengan 225 kasus dan Puskesmas Baiturrahman sebanyak 134 kasus.

Sementara jika dilihat dari jumlah kasus yang tercatat langsung di puskesmas, Puskesmas Baiturrahman menjadi yang tertinggi dengan 25 kasus, disusul Puskesmas Meuraxa sebanyak 23 kasus.

Wahyudi menjelaskan, secara keseluruhan kasus TBC di Banda Aceh masih menjadi perhatian serius. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 1.617 pasien TBC sensitif obat (TBC SO) menjalani pengobatan dan 17 pasien TBC resisten obat (TBC RO) mendapatkan penanganan.

Baca Juga :  SAPA Desak Pemerintah Aceh dan PLN Benahi Krisis Pemadaman Listrik yang Terus Berulang

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 1.485 kasus TBC sensitif obat yang diobati. Meski demikian, kasus TBC resisten obat mengalami penurunan dari 40 kasus pada 2024 menjadi 17 kasus pada 2025.

Menurut Wahyudi, tingginya angka temuan kasus menunjukkan upaya deteksi dini yang terus dilakukan oleh fasilitas kesehatan di Banda Aceh berjalan cukup baik. Namun, kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa penularan TBC masih terjadi di tengah masyarakat.

Baca Juga :  Kadiskop UKM Aceh Kunjungi Koperasi Peternakan Tualang Lestari di Pedalaman Aceh Utara

Saat ini, sebanyak 1.212 pasien tercatat masih menjalani pengobatan aktif. Dinas Kesehatan terus mendorong pasien untuk menyelesaikan pengobatan hingga tuntas guna mencegah penularan dan munculnya kasus TBC resisten obat.

“Kami terus memperkuat deteksi dini, pelacakan kontak erat, serta memastikan pasien menjalani pengobatan secara teratur sampai selesai,” ujarnya.

Dinas Kesehatan juga mengimbau masyarakat yang mengalami gejala TBC seperti batuk lebih dari dua minggu, demam berkepanjangan, penurunan berat badan, dan keringat malam agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. (Adv)

Editor: Amiruddin. MK

Share :

Baca Juga

Banda Aceh

SPPG Lamjame Diapresiasi, Warga Rasakan Dampak Nyata Peningkatan Ekonomi

Advetorial

Pantai Mantak Tari Jadi Lokasi Wisata Favorit Warga Pidie

Advetorial

Wali Kota Lhokseumawe Kukuhkan Pejabat Baru: Wujudkan Pemerintahan yang Profesional dan Berkualitas

Banda Aceh

ISEI Banda Aceh dan Radio Antero Gelar FGD: Quo Vadis Arah Kebijakan Ekonomi Aceh?

Advetorial

Rakornis Kearsipan dan Perpustakaan se-Aceh 2025: Dorong Digitalisasi dan Literasi Berbasis Data

Daerah

TNI AL Berikan Pelayanan Kesehatan bagi korban bencana alam Aceh di KRI Soeharso

Advetorial

Tokoh Adat dan Budaya Berperan Penting dalam Melestarikan Kehidupan Sosial Masyarakat

Advetorial

Kejagung Akan Gelar Perkara Kasus Korupsi Proyek Satelit