Banda Aceh – Wilayah kerja Puskesmas Kuta Alam menjadi daerah dengan temuan kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi di Kota Banda Aceh pada 2025 lalu. Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mencatat sebanyak 797 kasus ditemukan di wilayah tersebut, jauh lebih tinggi dibandingkan kecamatan lainnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, mengatakan tingginya angka kasus di wilayah kerja Kuta Alam berasal dari akumulasi pelayanan berbagai fasilitas kesehatan yang berada dalam cakupan wilayah tersebut, termasuk rumah sakit, klinik, dan dokter praktik mandiri.

“Jika dilihat dari wilayah kerja puskesmas yang mencakup rumah sakit, klinik, dan dokter praktik mandiri, kasus tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Kuta Alam sebanyak 797 kasus,” kata Wahyudi, Kamis (4/6/2026).
Setelah Kuta Alam, wilayah dengan jumlah kasus terbanyak berikutnya adalah wilayah kerja Puskesmas Banda Raya dengan 225 kasus dan Puskesmas Baiturrahman sebanyak 134 kasus.
Sementara jika dilihat dari jumlah kasus yang tercatat langsung di puskesmas, Puskesmas Baiturrahman menjadi yang tertinggi dengan 25 kasus, disusul Puskesmas Meuraxa sebanyak 23 kasus.
Wahyudi menjelaskan, secara keseluruhan kasus TBC di Banda Aceh masih menjadi perhatian serius. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 1.617 pasien TBC sensitif obat (TBC SO) menjalani pengobatan dan 17 pasien TBC resisten obat (TBC RO) mendapatkan penanganan.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 1.485 kasus TBC sensitif obat yang diobati. Meski demikian, kasus TBC resisten obat mengalami penurunan dari 40 kasus pada 2024 menjadi 17 kasus pada 2025.
Menurut Wahyudi, tingginya angka temuan kasus menunjukkan upaya deteksi dini yang terus dilakukan oleh fasilitas kesehatan di Banda Aceh berjalan cukup baik. Namun, kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa penularan TBC masih terjadi di tengah masyarakat.
Saat ini, sebanyak 1.212 pasien tercatat masih menjalani pengobatan aktif. Dinas Kesehatan terus mendorong pasien untuk menyelesaikan pengobatan hingga tuntas guna mencegah penularan dan munculnya kasus TBC resisten obat.
“Kami terus memperkuat deteksi dini, pelacakan kontak erat, serta memastikan pasien menjalani pengobatan secara teratur sampai selesai,” ujarnya.
Dinas Kesehatan juga mengimbau masyarakat yang mengalami gejala TBC seperti batuk lebih dari dua minggu, demam berkepanjangan, penurunan berat badan, dan keringat malam agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK















