Aceh Barat Daya — Aktivitas pengangkutan biji besi (hauling) milik PT Juya Aceh Mining (JAM) yang mulai beroperasi pada hari keempat Idulfitri 1447 Hijriah menuai sorotan tajam dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat Daya (Abdya), Muhibpudin.
Politisi partai PKB ini menilai operasional tersebut tidak tepat karena berlangsung saat mobilitas masyarakat sedang tinggi di momen liburan lebaran.
Muhibpudin menyebutkan masyarakat saat ini masih sangat padat menggunakan jalan raya untuk bersilaturahmi, mengunjungi keluarga, hingga melakukan perjalanan arus balik pasca mudik.
“Kehadiran kendaraan angkutan tambang berukuran besar berpotensi mengganggu kenyamanan sekaligus membahayakan keselamatan pengguna jalan,” terangnya, Selasa (24/3/2026).
Lebih tegas, anggota DPRK daerah pemilihan tiga ini menyebutkan, di momen lebaran seharusnya ada pembatasan terhadap mobil hauling agar tidak menimbulkan risiko di jalan.
“Perusahaan seharusnya menunjukkan kepekaan terhadap situasi sosial masyarakat, terutama pada hari besar keagamaan. Aktivitas hauling yang tetap berjalan di tengah suasana lebaran memperlihatkan kurangnya perhatian terhadap keselamatan publik,” tegasnya.
Muhibpudin juga menyoroti potensi kecelakaan lalu lintas yang meningkat akibat keberadaan kendaraan berat di jalur umum yang padat. Menurutnya, ukuran besar dan beban angkut tinggi dari mobil hauling dapat memperbesar risiko jika terjadi insiden di jalan.
“Kendaraan hauling ini bukan kendaraan biasa. Risikonya jauh lebih besar, apalagi saat jalan ramai seperti sekarang,” ujarnya.
Ia meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk menyikapi persoalan tersebut.
Ia mendorong evaluasi terhadap aktivitas PT Juya Aceh Mining, termasuk peninjauan kembali izin operasional jika ditemukan pelanggaran.
Muhibpudin menekankan pentingnya ketegasan pemerintah dalam menegakkan aturan.
Selain itu, ia juga meminta instansi terkait meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas perusahaan tambang, khususnya dalam penggunaan jalan umum.
Keluhan dari masyarakat turut memperkuat sorotan terhadap aktivitas tersebut. Warga mengaku terganggu dengan lalu lalang kendaraan hauling yang melintas di jalan raya selama momen lebaran.
Mereka merasa khawatir terhadap keselamatan, terutama bagi pengendara sepeda motor dan pejalan kaki yang mendominasi arus lalu lintas saat hari raya.
“Jalan jadi tidak nyaman, apalagi banyak anak-anak dan keluarga yang keluar rumah,” ujar Saiful salah seorang warga.
Muhibpudin berharap pemerintah daerah dapat lebih responsif dalam menjaga ketertiban dan keselamatan masyarakat, terutama pada momen penting seperti Idulfitri.
Menurutnya, langkah pengaturan yang tepat tidak hanya akan meningkatkan keselamatan, tetapi juga menciptakan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat dalam merayakan hari raya.
“Lebaran adalah momen kebersamaan. Jangan sampai terganggu oleh aktivitas yang sebenarnya bisa diatur dengan lebih baik,” tutupnya.












