Sigli – Sore itu, angin dari pesisir Sigli berhembus pelan, menyapu rumput Stadion Blang Paseh yang mulai menguning di beberapa sudut. Di tribun yang tak selalu penuh, ada harapan yang kembali tumbuh pelan, tapi pasti.
Harapan itu bernama PSAP Sigli, dan di balik denyut barunya, ada sosok Muhammad Yusri Syamaun yang akrab disapa Amat Tong. Delapan tahun kondisi PSAP Sigli vakum dan hanya menjadi klub tahunan dalam mengikuti kompetisi.
Namun begitu tangan dingin Amat Tong menyentuk klub Laskar Aneuk Nanggroe (LAN) julukan untuk PSAP, seakan nadi kembali berdenyut dan pemain yang menghuni PSAP pun semakin gagah perkasa dan tampil memukau.
Bagi masyarakat Pidie, PSAP bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah identitas, kebanggaan, bahkan denyut nadi yang menghubungkan generasi. Namun, seperti banyak klub daerah lainnya, PSAP sempat kehilangan arah bukan hanya soal prestasi, tapi juga “roh” yang dulu membuatnya disegani. Amat Tong tampaknya paham betul soal itu.
Sudah lama PSAP vakum tanpa pergerakan yang berarti dan hanya mengikuti kompetisi tahunan agar tidak diblacklist oleh PSSI. Namun tanpa tujuan yang berarti, sehingga Amat Tong hadir atas kepercayaan Bupati Pidie H.Sarjanj Abdullah, lalu dia langsung tancap gas dan mengikuti Liga 4.
Dari polesan tangan Amat Tong, PSAP kembali bersinar, terbukti PSAP sudah diperhitungkan saat berlaga di Liga 4 Zona Aceh. Namun demikian butuh doa dan dukungan dari semua masyarakat Pidie agar PSAP bisa melaju ke babak berikutnya dan bisa menjadi juara Aceh serta tembus ke Liga 3 Nasional.
Ia tidak datang membawa janji muluk. Tidak pula dengan gebrakan sensasional. Tapi perlahan, ia merajut kembali sesuatu yang sempat tercerabut, semangat kolektif, disiplin, dan rasa memiliki terhadap lambang kebanggaan daerah.
“PSAP ini bukan milik satu orang, ini milik masyarakat,” begitu kira-kira prinsip yang dipegangnya.
Di bawah sentuhannya, perubahan mulai terasa. Latihan tidak lagi sekadar rutinitas, tetapi menjadi ruang pembentukan karakter.
Pemain-pemain muda diberi kepercayaan, sementara yang senior dituntut menjadi teladan. Tidak ada lagi sekat antara bintang dan pelapis semua dipaksa menyatu dalam satu tujuan. Hasilnya mulai terlihat di lapangan.
Dalam beberapa laga terakhir di Liga 4 Zona Aceh, PSAP tampil dengan wajah berbeda. Permainan mereka lebih hidup, agresif, dan penuh determinasi. Kemenangan demi kemenangan bukan hanya soal angka di papan skor, tetapi simbol kebangkitan yang lama dinantikan.
Namun, bagi Amat Tong, kemenangan bukan tujuan akhir. Ia lebih fokus pada proses membangun fondasi yang kuat agar PSAP tidak lagi menjadi tim “musiman”. Ia ingin PSAP kembali menjadi rumah bagi talenta lokal, tempat anak-anak Pidie bermimpi dan tumbuh bersama sepak bola.
Di tribun, para penonton mulai kembali bersuara. Yel-yel yang dulu sempat redup kini kembali menggema. Ada rasa bangga yang perlahan pulih, seolah masyarakat kembali menemukan bagian dari diri mereka yang sempat hilang.
Mengembalikan “roh” sebuah tim memang bukan pekerjaan mudah. Ia tidak bisa dibeli, tidak bisa dipaksakan. Ia harus dibangun dari kepercayaan, kerja keras, dan komitmen yang konsisten.
Dan Amat Tong, dengan segala kesederhanaannya, sedang melakukan itu.
PSAP mungkin belum sepenuhnya kembali ke masa kejayaannya. Jalan masih panjang, tantangan masih banyak. Tapi satu hal yang pasti roh itu kini mulai hidup lagi.
Di Stadion Blang Paseh, di tengah sorak yang sederhana, sebuah kebangkitan sedang ditulis. Dan Amat Tong, tanpa banyak kata, menjadi bagian penting dari cerita itu.
Dalam hal itu Amat Tong sangat berterimakasih kepada Camat Geumpang, Keuchik, tokoh masyarakat Geumpang, Kapolres Pidie, M.Nasir Jamil anggota DPR RI, Caffe Durui, Grand Hotel Aceh Geumpang. Lalu juga terimakasih untuk Bos Jimmi dan PT Sarena Jaya.
Menurut dia semua sponsor itu sudah sangat membantu keberlangsungan klub PSAP Sigli, sehingga PSAP akan berjaya kembali dan bisa melaju ke babak selanjutnya, sehingga bisa melaju ke Liga 3. “Kita bidik juara Aceh terlebih dahulu”,pungkas Amat Tong.
Editor: Amiruddin. MKReporter: Amir Sagita












