Banda Aceh – Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Prof Dr Yusri Yusuf menyatakan program prioritas pihaknya adalah melakukan revitalitasi lembaga-lembaga adat yang ada di provinsi ujung paling barat Indonesia ini.
“Tentu revitalisasi itu bertujuan untuk memperkuat kembali dan melestarikan nilai-nilai budaya, tradisi, serta lembaga adat agar tetap relevan di era globalisasi ini,” katanya di Aceh Besar, Sabtu (9/5/2026).
Hal tersebut disampaikan usai pengukuhan MAA oleh Paduka Yang Mulia Tgk Malik Mahmud Al Haytar. Revitalisasi lembaga-lembaga adat tersebut juga sebuah proses yang bertujuan mencegah punahnya warisan budaya dan memastikan generasi muda memahaminya.
“MAA juga akan membuat program sosialisasi tentang adat dan istiadat kepada masyarakat luas, sehingga warisan yang merupakan sebuah peradaban Aceh itu bisa hidup kembali di era modern ini, ” katanya menjelaskan.
“Fungsi adat itu untuk menjaga agama, bila adat tidak ada lagi di dalam masyarakat, Yusri menjelaskan tentu agama akan tergerus oleh prilaku-prilaku yang tidak diharapkan,”
Mengutip perkataan orang-orang tua terdahulu, dalam bahasa Aceh “Kong rumoh karena bajo selingka puteng dan kong agama karena adat na di genireung. Jadi adat itu mengguatkan dan menjaga agama, ” katanya menambahkan.
Jadi masyarakat tidak cenderung melanggar agama jika adat yang tumbuh dan kuat dalam komunitas penduduk. “Adat itu warisan orang tua yang harus dijalankan dan dipertahankan, ” tambah dia.
Lanjutnya, “Jadi, agama itu seperti tanaman dan adat itu adalah pagarnya. Orang tua dulu membuat adat untuk menjaga agama,” Jelasnya
Ketika ditanya soal prilaku oknum masyarakat yang kerap melakukan pelanggaran adat dan prilaku yang dinilai tidak mencerminkan budaya Aceh lewat media sosial, Yusri menegaskan pihaknya juga siap memanfaatkan teknologi informasi (sosmed) untuk mengampanyekan adat dan budaya Aceh yang ideal saat ini.
Editor: Amiruddin. MK











