Aceh Barat Daya – Persoalan klasik kembali mewarnai hari pertama tahun ajaran baru di sejumlah sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).
Koalisi Barisan Guru Bersatu (KoBar-GB) Abdya menemukan masih banyak sekolah yang mengalami kekurangan meja dan kursi, bahkan sebagian mobiler sudah rapuh dan tidak lagi layak.
Ketua KoBar-GB Abdya, Rusli, S.Pd, mengatakan kondisi tersebut berpotensi mengganggu kenyamanan sekaligus keselamatan siswa selama mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).
Menurutnya, hasil pemantauan KoBar-GB menunjukkan sejumlah meja dan kursi mengalami kerusakan berat.
Banyak di antaranya sudah lapuk, goyah, dan tidak memenuhi standar untuk menunjang proses belajar.
“Anak-anak berhak belajar dengan nyaman dan aman. Kalau meja dan kursi sudah rapuh, tentu dapat membahayakan mereka saat mengikuti pelajaran,” kata Rusli, Senin (13/7/2026).
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan segera merealisasikan pengadaan mobiler bagi sekolah-sekolah yang masih mengalami kekurangan.
Rusli menilai penyediaan sarana belajar menjadi kebutuhan mendesak apabila pemerintah ingin meningkatkan mutu pendidikan.
Menurutnya, kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada tenaga pendidik, tetapi juga fasilitas belajar yang memadai.
KoBar-GB berharap pada tahun mendatang tidak ada lagi sekolah di Abdya yang masih menggunakan bangku belajar rusak ataupun kekurangan meja dan kursi.
Rusli mengungkapkan, sejumlah sekolah bahkan masih menghadapi keterbatasan jumlah kursi.
“Kalau benar anggaran pengadaan mobiler sudah ada usulan sejak tahun lalu, seharusnya persoalan seperti ini tidak lagi terjadi pada hari pertama sekolah. Jangan sampai siswa harus berebut kursi hanya karena fasilitas belum tersedia,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak mobiler yang ada saat ini sudah tidak nyaman pemakaian untuk belajar.
Kondisi tersebut dapat mengurangi konsentrasi siswa selama mengikuti pelajaran di kelas.
Selain mendesak pengadaan mobiler, KoBar-GB juga menyoroti peran pengawas sekolah dalam memetakan kebutuhan sarana pendidikan.
Rusli menyebut kepala Dinas dikbud Abdya memiliki latar belakang sebagai seorang guru sehingga memahami kondisi riil sekolah-sekolah di lapangan.
“Di Dinas dikbud juga ada pengawas sekolah. Mereka harus aktif menyampaikan kebutuhan setiap sekolah sehingga bisa segera tertangani, bukan terus berulang setiap tahun ajaran baru,” tegasnya.
KoBar-GB berharap segera pendataan ulang terhadap kebutuhan mobiler di seluruh SD dan SMP di Aceh Barat Daya.
Kemudian menetapkan pengadaan sebagai salah satu program prioritas agar seluruh siswa memperoleh hak belajar yang aman, nyaman, dan layak.
Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar














