Home / Ekbis

Kamis, 14 September 2023 - 16:33 WIB

Membangun Ketahanan Pangan Melalui Pembiayaan Bank Aceh

mm Redaksi

Sejumlah pekerja tengah melakukan proses pengemasan produksi beras dengan merk dagang DJ yang berada di Desa Lhang, Kecamatan Setia, Kabupaten Aceh Barat Daya.

Sejumlah pekerja tengah melakukan proses pengemasan produksi beras dengan merk dagang DJ yang berada di Desa Lhang, Kecamatan Setia, Kabupaten Aceh Barat Daya.

Banda Aceh – Aceh dikenal sebagai penghasil padi yang beragam di masing-masing daerah. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, rata-rata produktivitas padi di Aceh pada tahun 2022 mencapai 55 ton per hektar. Jumlah produksi padi di Aceh sendiri di tahun yang sama mencapai 1.5 juta ton. Produksi padi yang tumbuh subur di Aceh membuka pasar bagi usaha penggilingan padi. Dari usaha ini, profit yang didapat tidak hanya dari upah giling, namun juga dari penjualan dedak atau katul ke pihak lain.

Peluang usaha tersebut berhasil dimanfaatkan Icha Ramalisa Febriyanti (28), warga Desa Lhang, Kecamatan Setia, Kabupaten Aceh Barat Daya. Melalui kejeliannya membaca peluang, ia sukses menjalankan usaha kilang padi UD Berkat Dilan Jaya di tanah kelahirannya.

“Alhamdulillah, usaha kilang padi ini telah saya jalani selama 6 tahun. Dan insya Allah terus berkembang,” ujarnya, Jumat (08/09/2023). Dikatakan, sebelum memiliki kilang secara mandiri, iya sempat bekerjasama dengan kilang padi milik kerabatnya selama 2 tahun.

Baca Juga :  Tekan Inflasi, Pemkab Aceh Besar Kembali Gelar Pasar Khusus di Montasik

Icha mengakui di awal perjalanan bisnisnya mengalami kendala dalam memenuhi kebutuhan permintaan. Hal tersebut terjadi akibat minimnya modal untuk pembelian bahan baku dalam bentuk gabah. Apalagi, ketika harganya mengalami kenaikan, seperti saat ini yang berada di kisaran Rp5.000 – 6.000/kg.

“Kami tidak dapat memenuhi banyak permintaan ketika modal kerja yang ada belum mampu menyerap persediaan di lapangan. Meskipun sebenarnya potensi yang ada sangat besar untuk memenuhi kebutuhan pasar,” ujarnya. Apalagi, sumber gabah tidak hanya berasal dari wilayah yang berada di Kabupaten Abdya, tetapi juga di sejumlah kabupaten lainnya seperti Aceh Jaya, Singkil, dan Aceh Barat. Dikatakan Icha, hal tersebut kerap terjadi ketika musim panen terjadi.

Lantas, setelah memiliki pengalaman dan memahami prospek bisnis yang dijalani, Icha memberanikan diri untuk mencari alternatif sumber modal untuk memperkuat bisnisnya. Hal ini guna merealisasikan keinginannya melakukan ekspansi terhadap usaha.

“Saat itu, saya mendapatkan informasi bahwa proses pengajuan fasilitas pembiayaan di Bank Aceh cepat dan mudah. Saya langsung mengunjungi Bank Aceh terdekat,” ujarnya. Dikatakan, setelah dilakukan survei dan memenuhi persyaratan, Icha dalam waktu singkat memperoleh tambahan modal dari Bank Aceh. Ia memperoleh fasilitas Pembiayaan KUR Syariah dengan menggunakan akad Musyaraqah Mutanaqisah (MMq).

Baca Juga :  Panitera Mahkamah Agung RI Sosialisasikan Pengggunaan Virtual Account untuk Modernisasi Pembayaran Biaya Perkara

MMq adalah salah satu bentuk skema dalam pembiayaan Syariah yang dapat dimanfaatkan untuk bisnis baik perorangan maupun perusahaan. MMq untuk pembelian aset usaha (investasi). Selain itu, juga dapat memanfaatkan aset yang sudah dimiliki untuk memperoleh pembiayaan yang akan digunakan untuk tujuan komersil seperti pembelian bahan baku, stok, pembayaran gaji karyawan dan sebagainya. Dengan metode angsuran, fasilitas pembiyaan dengan skema MMq memberikan benefit fleksibelitas dalam pembayaran angsuran, atau jadwal pembayaran pembiayaan modal kerja sesuai dengan kondisi keuangan usaha. Adapun, fasilitas pembiayaan yang diperoleh Icha dipergunakan untuk penambahan modal kerja. Terutama digunakan untuk pembelian gabah atau beras dari sejumlah pemasok yang merupakan petani individu mapun kelompok yang sebahagian besar melakukan transaksi secara tunai. Dengan fasilitas pembiayaan yang diberikan, menurutnya, mampu memenuhi kebutuhan kilang padi. Selain itu, saat ini ia telah menggunakan tenaga kerja sebanyak 7 orang.

Baca Juga :  BSI Tetapkan Wisnu Sunandar jadi Corsec Baru

“Hal ini dapat menambah pendapatan daerah dan mengurangi tingkat pengangguran karena lapangan kerja yang tercipta semakin besar. Khususnya untuk masyarakat sekitar Kecamatan Setia, dan umumnya di Kabupaten Aceh Barat Daya sendiri,” ujarnya.

Ditambahkan Icha, saat ini pasar Kilang Padi Berkat Dilan Jaya dengan merk dagang beras DJ telah menjangkau pasar di sejumlah kabupaten kota seperti Subulussalam, Singkil, Aceh Tenggara. “Produk beras kami juga telah menjangkau hingga ke kabupaten Sidikalang, Provinsi Sumatera Utara,” ujarnya.

Setelah mendapatkan fasilitas pembiayaan, omzet kami saat ini mencapai rata-rata hingga Rp200 juta dalam sebulan. “Alhamdulillah, dengan fasilitas pembiayaan dari Bank Aceh, kami lebih fleksibel dalam menyusun strategi bisnis,” tutupnya.

Icha berharap, selain memperoleh profit, usaha yang dijalaninya juga dapat memberikan kontribusi positif bagi ketahanan pangan baik di Aceh, maupun nasional. **

Share :

Baca Juga

Ekbis

Menjadi Pusat Perhatian, BSI Aceh Muslimpreneur menuju Tahapan Showcase

Daerah

BSI Perbanyak Layanan Weekend Banking di Seluruh Indonesia Sepanjang Ramadhan

Ekbis

BI Mengajar Cetak Generasi Muda Aceh Melek Kebanksentralan

Ekbis

Bank Aceh Syariah dan PT Taspen (Persero) Perkuat Sinergi Layanan Pembayaran Pensiun

Advetorial

KUR Syariah dan SRC Dorong UMKM Aceh Naik Kelas

Banda Aceh

Stage Velocity Aceh 2026, CEO Samira Travel Motivasi Mitra dan Bagikan 2 Tiket Umroh Gratis di Banda Aceh

Banda Aceh

Bank Aceh Resmikan ATM Drive Thru di Taman Kota Banda Aceh, Layanan Cepat Tanpa Turun Kendaraan

Ekbis

BSI Aceh Optimalkan Layanan Penukaran Riyal Jamaah Haji Aceh