Banda Aceh – Transformasi digital tak hanya menyentuh sektor industri dan bisnis, tetapi juga merambah dunia perpustakaan. Di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan literasi digital, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) mempercepat langkah menghadirkan pustaka digital sebagai jawaban atas kesenjangan akses bacaan di Aceh.
Langkah ini menjadi strategi penting untuk menjangkau masyarakat hingga ke wilayah yang selama ini sulit mengakses perpustakaan umum. Sebab, fasilitas perpustakaan fisik umumnya berada di pusat kabupaten atau kota, sehingga tidak semua masyarakat memiliki kemudahan untuk datang langsung.
Sekretaris DPKA, Zulkifli, mengatakan perpustakaan digital menjadi solusi atas tantangan literasi di era modern yang serba cepat dan berbasis teknologi.

“Perpustakaan digital memperluas akses informasi tanpa batasan geografis dalam menjawab tantangan literasi di era modern yang serba cepat dan teknologi. Selain itu, penerapan literasi digital akan membuat kehidupan sosial dan budaya masyarakat cenderung aman dan kondusif,” ujar Zulkifli, Senin (2/3/2026).
Saat ini, sekitar 14 ribu judul buku telah diinput ke dalam sistem digital. Tidak hanya buku umum, digitalisasi juga mencakup arsip-arsip sejarah Aceh hingga naskah kuno yang memiliki nilai historis tinggi. Langkah ini sekaligus menjadi upaya pelestarian dokumen penting daerah agar tetap terjaga dan mudah diakses generasi mendatang.
Menurut Zulkifli, kebutuhan terhadap pustaka digital sudah sangat mendesak di hampir seluruh perpustakaan di Aceh. Perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang kini lebih banyak menggunakan gawai dan internet menjadi alasan utama percepatan program tersebut.
“Kadang-kadang orang malas pergi ke pustaka umum. Maka nantinya bisa diakses melalui internet, itu program kita,” tuturnya.
Dalam memperkuat program ini, DPKA juga telah mengusulkan dukungan kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) agar membantu daerah menghadirkan sistem pustaka digital yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Transformasi ini menandai perubahan paradigma perpustakaan dari sekadar ruang penyimpanan buku fisik menjadi pusat layanan informasi berbasis teknologi. Dengan katalog daring, e-book, jurnal elektronik, serta layanan referensi digital, pelajar, mahasiswa, peneliti, hingga masyarakat umum dapat mengakses informasi yang relevan dan terpercaya hanya melalui perangkat gawai.
Zulkifli menegaskan, perkembangan teknologi informasi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari cara bekerja, belajar, hingga berinteraksi. Kondisi tersebut mendorong lembaga publik, termasuk perpustakaan, untuk terus berinovasi agar tetap relevan di tengah persaingan informasi global.
Ke depan, pustaka digital tidak hanya menghadirkan koleksi e-book, tetapi juga dirancang menjadi ruang interaksi pengetahuan. Platform diskusi, webinar, hingga kolaborasi lintas lembaga pendidikan dan pemerintah dapat menjadi bagian dari ekosistem literasi digital yang lebih luas.
Keunggulan utama pustaka digital adalah kemampuannya menjangkau daerah terpencil dan mengatasi kesenjangan akses bahan bacaan. Dengan sistem daring, masyarakat tidak lagi dibatasi ruang dan waktu untuk mengembangkan diri.
Melalui percepatan digitalisasi ini, Pemerintah Aceh berharap budaya literasi tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Perpustakaan pun tak lagi sekadar bangunan sunyi penuh rak buku, melainkan simpul pengetahuan yang hidup di genggaman masyarakat.
Editor: Redaksi











