Home / News

Jumat, 5 Desember 2025 - 14:03 WIB

Bupati Pidie dan Istri Bermalam di Pengungsian: Malam Kuah Pliek U di Bawah Rembulan

mm Amir Sagita

Bupati Pidie, Sarjani Abdullah bersama warga pengungsi korban banjir di Blang Pandak Kecamatan Tangse, memasak kuah pliek u, beberapa hari yang lalu, (Foto.IST).

Bupati Pidie, Sarjani Abdullah bersama warga pengungsi korban banjir di Blang Pandak Kecamatan Tangse, memasak kuah pliek u, beberapa hari yang lalu, (Foto.IST).

Sigli – Malam baru saja turun ketika sebuah Pajero hitam berhenti di depan Masjid Blang Pandak, Tangse, Rabu (3/12/2025). Dari dalamnya keluar Bupati Pidie, H. Sarjani Abdullah, SH, MH, ditemani istrinya, Hj. Rohana Razali, STP. Keduanya tidak datang untuk sekadar meninjau. Mereka memilih bermalam di posko pengungsian warga yang terdampak banjir besar sepekan sebelumnya.

Sejak pagi, Sarjani bergerak dari Kembang Tanjong, menuju Simpang Tiga, dan baru menjelang senja tiba di Blang Pandak. Para pengungsi yang baru pulang dari sungai—membawa air bersih di jeriken—sempat tertegun melihat kedatangannya. Anak-anak, sebagian masih berlumpur, menatap pemimpin daerah mereka dengan campuran ragu dan harap.

Baca Juga :  Pj Bupati Aceh Besar Resmikan Pagar Masjid Agung Al Munawwarah Kota Jantho

Sarjani, atau Abu Sarjani—begitu ia kerap dipanggil—membawa kabar penting: hunian sementara untuk tujuh kepala keluarga yang rumahnya hilang total terseret banjir pada 25 November telah disiapkan dan akan segera dibagikan.

Tak hanya turun meninjau, Ibu Rohana—berkerudung rapi, bergerak cair di antara para perempuan—memastikan kebutuhan anak dan perempuan di posko terpenuhi. Ia ikut memetik sayur, menakar bumbu, hingga bersama warga memasak kuah pliek u, hidangan yang kemudian disantap bersama para pengungsi.

Baca Juga :  Plt Sekda: Keunggulan Sejarah dan Budaya Peluang Kembangkan Wisata Halal di Aceh

Malam itu, Blang Pandak berubah menjadi ruang kebersamaan. Tanpa listrik, tanpa sinyal telepon, warga dan pemimpinnya makan di bawah cahaya rembulan. Suara sendok beradu dengan piring seng, obrolan tertahan, dan tawa kecil anak-anak yang sesekali pecah dari sudut tenda.

Rohana, yang tampak akrab memetik daun dan meracik bumbu, larut dalam kesibukan dapur darurat. “Begitulah, malam penuh keakraban,” kata seorang ibu yang menemaninya meracik kuah pliek u.

Baca Juga :  Bantu akses transportasi Pedesaan, Prajurit Kodam IM Perbaiki Jembatan

Di luar suasana hangat itu, kerusakan akibat banjir masih terasa. Di Gampong Blang Pandak, tujuh rumah dan dua balai pengajian hilang tersapu derasnya air.

Keuchik Blang Pandak, Muhammad Yanis, menyebutkan kerusakan itu sebagai kehilangan terbesar yang pernah dialami warganya. “Ada tujuh rumah hanyut, tak bisa diselamatkan,” ujarnya.

Namun malam itu, di antara puing dan gelap, pengungsi menemukan kembali sedikit ketenangan: ditemani pemimpin mereka, makan bersama, dan mencoba merawat harapan yang tersisa.

Editor: Amiruddin. MKReporter: Amir Sagita

Share :

Baca Juga

News

Plt Sekda Aceh: Masukan BPK Sarana Kami Berbenah

News

Akrab dan Ceria Halal bi Halal di Kediaman Pribadi Wagub Fadhlullah

News

Wagub Aceh Minta Kepala BPH RI Jadikan Aceh Pusat Embarkasi Haji Indonesia

News

Kapal Aceh Hebat 1: AC Tak Berfungsi Penumpang Tidur di Lantai, hingga Excavator Mogok

News

Gubernur Aceh dalam Kondisi Sehat dan Baik

News

Dua WNA Dideportasi dari Sabang karena Langgar Izin Tinggal

News

Polres Bireuen Gelar Deklarasi Pembubaran Geng Motor

News

Pj Gubernur Safrizal Kembali Verifikasi Rumah Layak Huni, Tidak Ada Agen Ambil Laba