Banda Aceh – Pemerintah Kota Banda Aceh menegaskan pentingnya solidaritas antar daerah dalam menghadapi berbagai bencana, mulai dari dampak tsunami di masa lalu hingga tantangan krisis iklim yang semakin nyata saat ini.
Hal tersebut mengemuka dalam rangkaian Rapat Kerja Komisariat Wilayah I Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 yang digelar di Banda Aceh, Selasa (21/4/2026).
Dalam forum tersebut, isu penanganan bencana dan perubahan iklim menjadi salah satu fokus pembahasan. Para peserta menilai bahwa intensitas bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir, sehingga membutuhkan respons yang lebih terkoordinasi antar pemerintah kota.
Pemerintah kota juga menekankan bahwa pengalaman Aceh dalam menghadapi bencana besar di masa lalu menjadi pelajaran penting dalam membangun sistem ketahanan daerah yang lebih kuat dan responsif.
Banda Aceh sendiri yang pernah menjadi salah satu wilayah terdampak parah tsunami 2004, kini terus mengembangkan pendekatan mitigasi bencana sekaligus memperkuat peran kota sebagai pusat edukasi kebencanaan.
Melalui forum APEKSI ini, pemerintah kota-kota di Indonesia diharapkan dapat memperkuat kerja sama, terutama dalam penanganan darurat, pemulihan pascabencana, serta penguatan kapasitas fiskal untuk mendukung kesiapsiagaan daerah.
Selain itu, kolaborasi antar kota juga dinilai penting dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim yang dampaknya tidak lagi bersifat lokal, tetapi lintas wilayah dan sektor.
Pemerintah Kota Banda Aceh berharap, semangat solidaritas yang dibangun dalam forum ini tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata antar daerah dalam membantu wilayah yang terdampak bencana.
Editor: Amiruddin. MK












