Home / Daerah / Peristiwa

Senin, 17 Agustus 2026 - 09:50 WIB

EMI Apresiasi Respons Humanis Aparat, Keselamatan Rakyat Jadi Prioritas

mm Redaksi

Juru Bicara Ecopulse Movement Indonesia (EMI), Sella Nera Putri, S.Pd., M.Pd., Foto: Dok. EMI

Juru Bicara Ecopulse Movement Indonesia (EMI), Sella Nera Putri, S.Pd., M.Pd., Foto: Dok. EMI

Banda Aceh – Insiden kericuhan yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026), termasuk penurunan paksa bendera Merah Putih di tiang utama Masjid Raya Baiturrahman serta pencopotan paksa lambang negara Garuda di Meuligoe Gubernur Aceh, dinilai tidak semata-mata dapat dipandang sebagai kegagalan aparat keamanan.

Sebaliknya, sikap aparat yang tetap mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis di tengah situasi yang memanas dinilai menunjukkan adanya upaya untuk mengutamakan keselamatan masyarakat dan mencegah situasi berkembang lebih jauh.

Hal tersebut disampaikan Juru Bicara Ecopulse Movement Indonesia (EMI), Sella Nera Putri, S.Pd., M.Pd., dalam siaran pers yang diterima awak media Noa.co.id pada Minggu (17/8/2026).

Sella mengatakan, DPP EMI mengapresiasi sikap aparat keamanan yang dinilai tetap mengedepankan kesabaran dan pendekatan humanis ketika menghadapi massa dalam situasi yang emosional.

“Kami melihat presisi Polri di lapangan dan kesabaran TNI dalam menghadapi masyarakat yang memanas. Bagi kami, hal ini menunjukkan bahwa keselamatan rakyat tetap menjadi prioritas. Respons aparat yang berlebihan justru dikhawatirkan dapat memicu situasi yang lebih besar dan membuka kembali luka lama yang pernah terjadi di Aceh,” ujar Sella.

Baca Juga :  Terkait Pelaporan Oknum Wartawan, Kadisdik Aceh Dukung Kepala SMA Aceh Utara Tempuh Jalur Hukum

Menurutnya, pendekatan humanis bukan berarti membenarkan tindakan yang melanggar hukum. Setiap dugaan pelanggaran tetap harus ditangani melalui mekanisme hukum yang berlaku.

Namun, EMI menilai penegakan hukum perlu dilakukan secara terukur, proporsional, dan tetap mempertimbangkan keselamatan masyarakat, terutama dengan melihat kondisi sosial Aceh yang memiliki sejarah konflik panjang.

“Ketegasan dan pendekatan humanis tidak harus dipertentangkan. Aparat dapat tetap menegakkan hukum, tetapi pada saat yang sama menghindari tindakan yang berpotensi memperbesar konflik. Bagi kami, keselamatan rakyat adalah yang utama,” katanya.

Sella juga mengingatkan bahwa masyarakat Aceh memiliki pengalaman panjang dengan konflik dan kekerasan. Karena itu, menurutnya, seluruh pihak memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar ketegangan yang terjadi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Baca Juga :  Peran Dua Terduga Teroris yang Ditangkap di Aceh

Sebagai seseorang yang mengaku kehilangan ayah dalam masa konflik Aceh, Sella mengatakan dirinya memahami bagaimana konflik memberikan dampak panjang terhadap keluarga, khususnya anak-anak yang kehilangan orang tua.

“Saya memahami bagaimana perjuangan seorang ibu membesarkan anak tanpa kehadiran seorang ayah. Saya juga memahami bagaimana anak-anak korban konflik harus melanjutkan hidup dengan kehilangan yang sebenarnya tidak pernah mereka harapkan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan dirinya berharap generasi Aceh saat ini tidak kembali merasakan penderitaan yang pernah dialami generasi sebelumnya.

“Saya adalah bagian dari keluarga yang kehilangan orang orang yang kami cintai dalam perjalanan sejarah Aceh. Kakak saya, mamak saya, dan ayah saya menjadi bagian dari mereka yang kehilangan nyawa dalam perjalanan konflik tersebut. Kami dipaksa untuk merelakan dan mengikhlaskan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah kami harapkan,” tutur Sella.

Baca Juga :  Kejati Aceh Laksanakan Program JMS, Ini Tujuannya

Menurutnya, harapan setiap anak seharusnya sederhana, yakni dapat tumbuh bersama keluarga tanpa harus kehilangan orang-orang yang mereka cintai akibat konflik.

“Harapan kami sederhana, lahir dan tumbuh seperti anak-anak lainnya, tanpa harus kehilangan orang yang kami cintai karena konflik. Karena itu, pertanyaan kita hari ini adalah, apakah kita ingin mengulang sejarah yang sama” lanjutnya.

Di akhir pernyataannya, Sella mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, tokoh masyarakat, serta aparat keamanan untuk bersama-sama menjaga ketenangan dan perdamaian Aceh.

“Jangan biarkan perbedaan dan emosi sesaat menghapus pelajaran yang sudah dibayar mahal oleh generasi sebelumnya. Mari kita jaga Aceh tetap damai, selesaikan persoalan melalui dialog dan jalur hukum, serta jangan sampai anak-anak Aceh hari ini mewarisi luka yang sama seperti generasi sebelumnya,” pungkas Sella.

Editor: Amiruddin. MKReporter: Sanusi

Share :

Baca Juga

Daerah

Pulihkan Pesisir Aceh Tamiang, BSI Dan Relawan Bakti BUMN Tanam 15.000 Mangrove

Daerah

Wakili Pj Gubernur Aceh, Plh Kepala DLHK Aceh Wisudakan Siswa Sekolah Jurnalis Lingkungan

Daerah

Skandal Wastafel Rp43,7 Miliar, KPK : perkara tersebut ditangani oleh Polda Aceh

Daerah

Perkuat sinergitas, Kalapas Narkotika Kelas III Sawahlunto Kunjungi BNN

Daerah

Stasiun Bakamla TBK Salurkan Paket Sembako Sambut HUT ke-20 Bakamla RI

Daerah

1.408 Hewan Kurban Disembelih di Banda Aceh

Daerah

Menhan : Aceh Dapat Bantuan Negara Lain, itu bukan bantuan Asing

Daerah

Kakanwil Kemenkum Aceh Dorong Pemerintah Kota Raih Indeks Hukum Terbaik