Home / Advetorial / Opini

Sabtu, 31 Januari 2026 - 09:34 WIB

Majunya Pendidikan di Indonesia untuk Menuju Indonesia Emas 2045 dengan : Sejahterahakan Tenaga Pendidik (Guru)

mm Redaksi

Arie Purnomo

Arie Purnomo

Oleh: Arie Purnomo

Mahasiswa Program Studi Akuntansi Syariah Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, sebelum saya menuliskan isi dari tulisan saya yang mengangkat tentang tentang kemunduran pendidikan di Indonesia izinkan saya memperkenalkan diri saya terlebih dahulu, Saya Arie Purnomo, Mahasiswa yang baru duduk di semester 6 bangku perkuliahan dengan program studi Akuntansi Syari’ah.

Saya menulis ini setelah membaca dan mempelajari dari beberapa argumen para tokoh dan media baik itu jurnal ataupun media berita lainnya yang akhir-akhir ini kita dihadapkan dengan masalah kesejahteraan guruguru honorer dengan Program yang dijalankan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia Jenderal TNI (Purn) H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo.

Tentu dalam penulisan kali ini saya sebagai penulis ingin menekankan ini adalah opini dan harapan saya yang saya rujuk dan rasionalkan dari beberapa berita dan sumber yang saya baca lalu pelajari, jadi jika didalam tulisan saya terdapat banyak kesalahan pahaman izin untuk kiranya pembaca untuk mengkriktik yang membangun dan seyogyanya untuk tetap menambahi dan semangat untuk bahu membahu demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Kembali ke Pembahasan, Indonesia memiliki misi yang mulia yaitu ingin mencapai Indonesia emas di tahun 2045, ini bukan waktu yang lama lagi sudah sangat singkat untuk menuju ke misi tersembut, namun belum juga terlambat kita masih bisa berbenah, Nah Pendidikan salah satu faktor utamanya untuk menuju Indonesia emas 2045 akan tetapi pendidikan di Indonesia masih banyak terkendala masalah bisa kita tarik dari salah satu yang sedang diperbincangkan yaitu kesejahteraan guru terkhusus nya guru-guru honorer dan guru-guru yang ditempatkan di wilayah tertinggal (3T) di seluruh tanah air.

Baca Juga :  Upaya Ibu Cegah Anak Stunting dan Obesitas

Hasil survei IDEAS menunjukkan 74,3% guru honorer diupah dibawah Rp. 2.000.000 bulan bahkan lebih mirisnya didalam kelompok ini terdapat 20,5% dibayar kurang dari Rp.500.000/ bulannya sangat miris, ini adalah masalah besar negara ini yang tidak bisa kita diamkan, kalau merajuk dari UU nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen “Guru dan dosen, yakni pendidik profesional yang bertugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada, baik dalam pendidikan anak usia dini, pendidikan formal, pendidikan dasar, hingga pendidikan menengah.”

Dari pengertian diatas bisa kita simpulkan guru ini adalah laskar utama serta pelita terang yang langsung ber interaksi dengan generasi-generasi penerus bangsa yang harus kita perhatikan kesejahteraan nya, guru itu bukan hanya sekedar profesi mereka dengan sunyi berjalan sebagai malaikat dunia yang harus tetap kita jaga marwah nya dan di pastikam stabil keadaan nya.

Dibalik itu juga terdapat masalah yang dikemukakan oleh MENDIKDASMEN terdapat 483.000 guru di Indonesia belum mendapati tempat tinggal yang layak di Indonesia dengan banyak yang ditugaskan di pedalaman, ini salah satu fakta yang harus kita tampar bersama diri masing-masing, yang dimana guru ini juga bagian dari penjaga aset bangsa menjaga dan menghadirkan pola pikir baru negara nyatanya miris nya TNI-POLRI lebih dikasih kenyamanan ketika tugas dipedalaman dari pada guru yang berniat mulia untuk mencerdaskan anak bangsa.

Dari beberapa masalah diatas dapat kita simpulkan bahwasanya guru belum mendapatkan kesejahteraan terkhususnya guru honorer dan guru yang bertugas di wilayah 3T, dan sepertinya negara seolah tebal kuping untuk ini dan ketika guru turun kejalan ajukan aspirasi sakit rasanya hatinya ketika banyak tuntutan negara hanya menyampaikan kekurangan anggaran, namun dibalik itu hadirlah program yang besar dan fantastis yaitu “Makan Bergizi Gratis” (MBG), ini program yang sangat-sangat mulia, menghadirkan banyak dampak positif, baik dari segi ekonomi dari segi kesehatan anak bangsa, dengan dana yang tidak tanggung tanggung, Kementerian Keuangan RI mengemukakan pemerintah telah mengalokasikan sekitar Rp. 71 Triliun hingga Oktober 2025.

Baca Juga :  Pesona Air Terjun Tansaran Bidin, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Bener Meriah

Dari data diatas ini adalah anggaran yang besar, namun dalam hal ini ada ketimpangan yang di sebut dengan efesiensi paretto, ataupun dalam istilah ekonomi yaitu Maqasid Syari’ah, yang dimana untuk menuju kesejahteraan kita tidak bisa juga menjatuhkan pihak lain jadi ini seperti konsep yang timpang dimana garuda terbang tidak dengan kedua sayap nya, yang dimana ingin mencerdaskan anak bangsa ingin menyelamatnya anak bangsa tidak dengan memikirkan gizi nya saja, program ini baik tapi jika anggaran pantastis hanya terfokus untuk ini saja mungkin rasanya banyak terjadi ketimpangan yang dimana tenaga pendidik dinafikan.

Harapan nya guru-guru yang sebagai pelita dalam kegelapan itu tidak hanya sekedar nyanyian dan ucapan namun juga dimuliakan dan di sejahterakan tidak meminta agar MBG ditiadakan namun kedua nya berjalan dengan bersamaan, MBG jalan begitu juga kesejahteraan gurunya jua, kalau ini berjalan timpang tentu saja hadirlah dengan pendidikan yang tidak optimal, guru dianggap disepelekan seperti kasus yang terjadi di Jambi murid kroyok guru ini bisa jadi dugaan dari murid menganggap guru adalah bukan tokoh yang mulia lagi dikarenakan mereka menganggap bahwa mereka hari ini sudah aman dengan apa yang mereka dapatkan.

Baca Juga :  Tokoh Muda Pidie Jaya : Panitia Peyelenggara Pilkada Jangan Lagi Bikin Malu Masyarakat

Oleh karena itu saya ingin menyampaikan harapan kepada pemerintah mungkin bisa sebagai solusi untuk memajukan pendidikan di Indononesia melalui kesejahteraan guru :

1. Jadikan Guru ikatan dinas/ Ataupun diatas dengan ASN.

2. Profesi Guru di Indonesia harus dibawah naungan Pusat tidak Pemda dalam proses keuangan/Upah.

3. Perbaiki lagi kualitas seleksi Guru,hilangkan nepotisme.

4. Tempatkan Guru sesuai dengan Kemampuan nya.

5. Dalam penyusunan Kurikulum libatkan daerah didalamnya tidak mesti hadir dari pusat saja.

5 harapan diatas bukan semena-mena disampaikan tanpa alasan semua nya ada alasan yang pasti dan itu demi kesejahteraan guru-guru dan kualitas pendidikan di Indonesia ingin rasa nya guru tetap dihormati dipandang sejak seperti masa kepemempinan nabi Muhammad hingga masa perjuangan kerjaan majapahit, semua guru masih terdepan, serta juga Indonesia terhindar dari guru yang dari kekangan kontestasi ataupun tekanan pihak manapun agar tetap terjaga independensinya dan marwahnya dalam mencerdaskan anak bangsa Untuk terakhir sebagai penutup Sayyidina Ali pernah berkata, Ana ‘abdu man ‘allamani walaw harfan wahidan. Aku adalah hamba bagi siapa yang menagajariku walau satu huruf, ini jelas menekankan seberapa pentingnya kita menghargai guru, layak untuk kita sejahterakan , guru adalah pilar dari berbagai kehidupan, Presiden punya guru, Penulis punya guru, bahkan Nabi Muhammad sendiri belajar dengan malaikat Jilbril, jadi mari sadar dengan menjadi garda terdepan yang mendukung untuk guru sejahtera.

Akhirul Kalam, Billahi taufiq wal hidayah, Yakin Usaha Sampai.

Salam Penulis

Editor: RedaksiReporter: Redaksi

Share :

Baca Juga

Advetorial

TPID Lhokseumawe Bahas Strategi Pengendalian Inflasi Jelang Lebaran

Opini

Kepala Daerah Disebut Ujung Tombak Stabilitas Nasional, Ini Peran Strategisnya

Opini

Harga Minyak Goreng Melambung di Pasaran

Advetorial

Ketua DPR Aceh Desak Pemerintah Segera Realisasikan APBA 2025

Advetorial

Vaksinasi Pemerintah Aceh di Museum Aceh Capai 810 Persen Untuk Dosis Pertama

Opini

Disiplin Sekolah, untuk Apa? Opini Seorang Mantan Siswa

Advetorial

Menikmati Sensasi Segarnya Pesona Alam Pemandian Tangse

Advetorial

96 Tenaga Kontrak Terima SK Tahun 2023, Ini Pesan Kadisbudpar Aceh