Home / Advetorial / Kesehatan / Pemko Banda Aceh

Kamis, 21 Mei 2026 - 19:56 WIB

Kasus TBC Masih Tinggi, Banda Aceh Perkuat Sistem Kesehatan Lewat Program RSSH

mm Redaksi

Ilustrasi rontgen paru-paru, ilustrasi TBC, ilustrasi x-ray, ilustrasi rontgen. WHO mengungkap, kematian akibat tuberkulosis meningkat selama pandemi. Foto: Dok. Istimewa

Ilustrasi rontgen paru-paru, ilustrasi TBC, ilustrasi x-ray, ilustrasi rontgen. WHO mengungkap, kematian akibat tuberkulosis meningkat selama pandemi. Foto: Dok. Istimewa

Banda Aceh – Pemerintah Kota Banda Aceh menempatkan penanganan tuberkulosis (TBC) sebagai salah satu prioritas utama sektor kesehatan. Meski berhasil meraih penghargaan Adinkes Award 2025 dan mencapai eliminasi malaria, tingginya kasus TBC masih menjadi tantangan serius yang harus ditangani secara berkelanjutan.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan keberhasilan pembangunan kesehatan tidak hanya diukur dari penghargaan yang diraih, tetapi juga dari kemampuan daerah mengatasi penyakit menular yang masih mengancam masyarakat.

Menurut Illiza, kasus TBC di Banda Aceh hingga kini masih tergolong tinggi. Selain itu, kasus AIDS juga menunjukkan tren peningkatan sehingga membutuhkan penanganan yang lebih terintegrasi.

Baca Juga :  Pustaka Keliling, Cara DPKA Merayu Masyarakat untuk Gemar Membaca

“Kasus TBC masih cukup tinggi dan kasus AIDS juga menunjukkan peningkatan. Ini menjadi perhatian serius yang harus kita tangani bersama,” ujar Illiza.

Ia menyampaikan hal tersebut saat menyinggung capaian Banda Aceh yang meraih Adinkes Award 2025. Penghargaan tersebut, kata dia, menjadi motivasi bagi pemerintah kota untuk terus memperkuat sistem kesehatan melalui program Resilient Sustainable System for Health (RSSH).

Baca Juga :  Disbudpar Aceh Segera Luncurkan Kalender Event 2023, Dimeriahkan Kenduri Kuah Beulangong

Melalui program tersebut, Pemerintah Kota Banda Aceh berupaya membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh, responsif, dan berkelanjutan, terutama dalam menghadapi berbagai penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.

“Melalui RSSH, kami berupaya membangun sistem kesehatan yang lebih responsif dan berkeadilan,” katanya.

Illiza menegaskan penanganan TBC tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan semata. Diperlukan kolaborasi lintas sektor mulai dari pemerintah, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat untuk memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, pengobatan, dan pendampingan pasien.

Baca Juga :  Tour de Aceh 2023 Diikuti Atlet Mancanegara, Kategori Sepeda Santai Masih Dibuka

Menurutnya, penguatan sistem kesehatan juga mencakup perbaikan perencanaan program, dukungan anggaran yang memadai, serta kemitraan yang lebih luas agar target pengendalian TBC dapat tercapai.

“Keberhasilan penanganan AIDS, TBC, dan malaria membutuhkan keterlibatan semua pihak. Karena itu, penguatan kemitraan lintas sektor menjadi bagian penting dalam program RSSH,” ujarnya.

Pemerintah Kota Banda Aceh berharap penguatan sistem kesehatan melalui RSSH mampu mempercepat pengendalian TBC dan penyakit menular lainnya, sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan yang lebih merata bagi masyarakat. (Adv)

Editor: Amiruddin. MK

Share :

Baca Juga

Advetorial

Peserta MTQ Nasional 2022 Asal Aceh Tampil Tanpa Ada Kesalahan, Penonton Berebut Foto

Pemko Banda Aceh

Festival QRIS Pasar Atjeh Resmi Ditutup, 47.450 UMKM Banda Aceh Didorong Masuk Ekosistem Digital

Pemko Banda Aceh

Wawalko Afdhal Serahkan Bantuan Daging untuk Disabilitas, Pemko Banda Aceh Pastikan Meugang Dirayakan Semua Kalangan

Advetorial

Rumah Pangan Lestari di Takengon, Wisata Edukasi Bagi Pecinta Tanaman

Advetorial

Pemko Banda Aceh Tegaskan Penataan PKL Bukan Larangan Berdagang, UMKM Disiapkan Zona Khusus

Pemko Banda Aceh

BKPSDM Banda Aceh Gelar Workshop Pemutakhiran Data ASN melalui SIMPEG

Pemko Banda Aceh

Pemko Banda Aceh Gelar Maulid Raya Senin Depan

Advetorial

Pemberdayaan Masyarakat di Banda Aceh Diperkuat, Perempuan Jadi Penggerak Ekonomi Gampong