Banda Aceh – Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Tsunami Aceh kembali menyapa dunia pendidikan melalui program inovatif “Museum Keliling”. Kali ini, sekolah yang terpilih menjadi pusat edukasi kebencanaan adalah SMP Negeri 4 Banda Aceh, Selasa (12/5).
Berbeda dengan kunjungan konvensional, program ini memboyong koleksi museum, edukasi, dan materi kebencanaan langsung ke tengah lingkungan sekolah. Ratusan pelajar diajak menyelami sejarah sekaligus membangun kesiapsiagaan melalui metode belajar interaktif, mulai dari simulasi jalur evakuasi, pengenalan tanda-tanda alam, hingga pendalaman kearifan lokal seperti konsep Smong dari Kepulauan Simeulue.

Kepala Seksi Edukasi dan Preparasi UPTD Museum Tsunami Aceh, Abdul Lathief, menyatakan bahwa program ini merupakan langkah proaktif museum dalam menjangkau generasi pascatsunami.
”Museum Tsunami bukan sekadar penjaga ingatan masa lalu, tapi juga jembatan menuju masa depan yang lebih aman. Kami ingin generasi muda Aceh tidak hanya tahu sejarah tragedi 2004, tetapi tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan siaga menghadapi potensi bencana,” ujar Lathief.
Pemilihan SMPN 4 Banda Aceh memiliki makna simbolis tersendiri. Sebagai salah satu sekolah yang terdampak hebat pada tsunami dua dekade silam, kehadiran program ini diharapkan mampu mentransfer nilai-nilai ketangguhan dan solidaritas secara langsung kepada para pelajar.
Kepala SMP Negeri 4 Banda Aceh, Annie Kusharyanti, menyambut antusias terpilihnya sekolah mereka sebagai lokasi pelaksanaan tahun ini. Dari 19 sekolah negeri di Banda Aceh, SMPN 4 didapuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan.

“Ini kesempatan langka. Kami meminta para pelajar menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari para pakar Museum Tsunami. Biasanya mereka belajar dengan guru di kelas, hari ini mereka belajar langsung dari ahlinya,” kata Annie.
Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan seminar kesiapsiagaan melalui program SIBONA (Si Bocah Tangguh Bencana). Disampaikan secara serius namun santai dan mendalam oleh para edukator museum, para pelajar sangat antusias dalam mengikuti kegiatan.
“Kami instruksikan siswa untuk aktif bertanya dan nantinya berbagi pengalaman mereka melalui media sosial sekolah. Kita tunjukkan bahwa pelajar SMPN 4 adalah generasi yang tanggap bencana,” pungkasnya.
Program Museum Keliling merupakan inovasi rutin UPTD Museum Tsunami yang dirancang dengan standar kelas dunia (world-class standard). Selain sebagai fungsi edukasi, kegiatan ini selaras dengan misi riset dan mitigasi kebencanaan, serta mendukung penuh kurikulum muatan lokal pendidikan kebencanaan yang dicanangkan oleh Dinas Pendidikan Aceh.
Melalui kegiatan ini, Museum Tsunami Aceh berharap edukasi kebencanaan tidak lagi dipandang sebagai materi hafalan yang membosankan, melainkan bagian dari gaya hidup dan kesadaran kolektif masyarakat Aceh. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK













