Sigli – Malam itu, suasana di Masjid Babussalam Kalee, Kecamatan Muara Tiga, terasa lebih hangat dari biasanya. Safari Ramadan bukan sekadar agenda seremonial. Di mimbar sederhana itu, seorang pemuda berdiri dengan suara tenang namun tegas. Namanya Teuku Rafi Muda Wali.
Ia bukan pejabat. Bukan pula tokoh besar dengan pengawalan. Ia hanya seorang santri dari Dayah Mudi Mesra Mesjid Raya, Samalanga Kabupaten Biruen. Namun, dari lisannya, mengalir kegelisahan tentang masa depan generasi Aceh.
“Masukkan anak-anak kita ke dayah,” serunya di hadapan jamaah, Minggu (22/2/2026).
Seruan itu bukan tanpa alasan. Di tengah arus zaman yang makin deras, pergaulan bebas, krisis adab, dan lunturnya nilai-nilai agama menjadi kekhawatiran banyak orang tua. Teuku Rafi, putra kelahiran Gampong Suka Jaya, Muara Tiga, melihat dayah bukan sekadar tempat belajar kitab kuning. Dayah adalah benteng.
Aceh, sejak dulu, dikenal sebagai tanah para ulama. Identitas itu tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari tradisi pendidikan dayah yang kuat. Namun hari ini, di tengah euforia modernitas, tak sedikit orang tua lebih tergoda pada sekolah umum yang menjanjikan masa depan duniawi, tetapi lalai pada fondasi ukhrawi.
Teuku Rafi mengingatkan, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan pembentukan karakter. Namun, puasa bisa menjadi sia-sia jika lidah masih gemar berdusta, hati masih dipenuhi iri dan dengki, serta mulut masih menebar fitnah.
“Jangan mengadu domba sesama muslim,” pesannya tegas. Dalam tradisi Islam, adu domba bukan sekadar kesalahan sosial, melainkan dosa besar yang meruntuhkan amal. Apa arti tarawih panjang jika hati masih memelihara kebencian?
Ia juga menyinggung hal yang kerap dianggap sepele: menjaga pandangan. Di era gawai dalam genggaman, syahwat tak lagi menunggu ruang gelap. Ia hadir di layar kecil yang bisa diakses siapa saja, termasuk anak-anak. Karena itu, menjaga pergaulan anak menjadi kewajiban orang tua.
Feature ini bukan hanya tentang ceramah seorang santri. Ini tentang kegelisahan generasi muda Aceh yang ingin identitas daerahnya tetap berdiri di atas nilai Islam yang kokoh.
Teuku Rafi tidak menawarkan janji politik. Ia menawarkan kesadaran. Bahwa menyelamatkan anak-anak dari krisis moral tidak cukup dengan nasihat sesekali. Perlu lingkungan. Perlu sistem. Perlu dayah.
Di akhir ceramahnya, ia mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai ladang ibadah yang sungguh-sungguh. Memperbanyak amal, memperbaiki akhlak, dan memohon rahmat Allah SWT.
Di Masjid Babussalam Gampong Batee, Kemukiman Kalee, Kecamatan Muara Tiga, Pidie malam itu, pesan yang disampaikan sederhana: jika ingin Aceh tetap bermarwah, mulailah dari anak-anak. Mulailah dari pendidikan. Mulailah dari dayah.
Editor: Amiruddin. MKReporter: Amir Sagita












