Banda Aceh – Tingginya angka kasus tuberkulosis (TBC) di Banda Aceh menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Banda Aceh. Di tengah masih rendahnya cakupan imunisasi dasar anak, kasus TBC di ibu kota Provinsi Aceh itu tercatat telah menembus lebih dari 1.600 kasus.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menilai kondisi tersebut menjadi peringatan penting bagi seluruh pihak untuk lebih serius meningkatkan cakupan imunisasi dan upaya pencegahan penyakit menular di masyarakat. Menurutnya, rendahnya perlindungan kesehatan dasar pada anak dapat meningkatkan kerentanan terhadap berbagai penyakit yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini.
“Angka tuberkulosis saat ini mencapai lebih dari 1.600 kasus. Ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa rendahnya cakupan imunisasi sangat berpengaruh terhadap meningkatnya risiko penyakit menular dalam masyarakat,” kata Illiza, Jumat (22/5/2026).
Selain TBC, Banda Aceh juga menghadapi peningkatan kasus penyakit menular lainnya. Dari total 263 kasus campak yang tercatat di Aceh, sebanyak 119 kasus ditemukan di Banda Aceh. Kasus pertusis atau batuk rejan juga mulai muncul di tengah masyarakat. Kondisi ini menunjukkan masih adanya kelompok anak yang belum memiliki perlindungan imunisasi yang memadai.
Berdasarkan data yang dipaparkan Illiza, cakupan imunisasi di Banda Aceh saat ini baru mencapai 33 persen. Bahkan sekitar 63 persen anak masih berstatus zero dose, yakni belum pernah menerima imunisasi dasar seperti DPT, Hepatitis B, dan Hib sama sekali.
Lebih mengkhawatirkan lagi, tren rendahnya cakupan imunisasi bukan terjadi dalam waktu singkat. Hasil evaluasi yang mengacu pada data UNICEF menunjukkan cakupan imunisasi di Banda Aceh selama lima tahun terakhir terus berada di bawah 50 persen. Artinya, selama bertahun-tahun sebagian besar bayi di Banda Aceh tumbuh tanpa mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
Menurut Illiza, kondisi tersebut tidak bisa ditangani dengan cara biasa. Pemerintah Kota Banda Aceh kini memperkuat layanan imunisasi di seluruh puskesmas dan posyandu, melakukan pemetaan sasaran hingga tingkat gampong secara rinci, serta menggerakkan kader kesehatan untuk melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah warga. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada anak yang terlewat dari layanan imunisasi.
Di sisi lain, pemerintah juga berupaya melawan maraknya informasi keliru mengenai vaksin yang masih berkembang di masyarakat. Edukasi terus dilakukan secara persuasif agar masyarakat memahami bahwa imunisasi merupakan salah satu cara paling efektif untuk mencegah penyakit menular dan menekan risiko munculnya kasus-kasus serius seperti TBC.
“Imunisasi bukan hanya melindungi anak yang mendapat vaksin, tetapi juga melindungi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Karena itu, kita harus bersama-sama memastikan setiap anak mendapatkan haknya untuk hidup sehat,” ujar Illiza. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK











