Banda Aceh – Pemerintah Kota Banda Aceh memperkuat penanganan penyakit menular melalui kolaborasi lintas sektor untuk menekan kasus AIDS, tuberkulosis (TBC), dan malaria atau yang dikenal dengan program ATM. Langkah ini dilakukan menyusul masih adanya peningkatan kasus AIDS dan TBC di Banda Aceh, serta untuk mencegah munculnya kembali kasus malaria yang saat ini telah berhasil ditekan.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan penanganan penyakit menular tidak dapat hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Menurutnya, dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar edukasi dan upaya pencegahan dapat menjangkau hingga tingkat keluarga.
“Kolaborasi lintas sektor terkait ATM terus kami perkuat. Kasus ini masih menjadi perhatian di Banda Aceh. Walaupun malaria sudah sangat terkendali, jangan sampai ada perkembangan kasus kembali di Banda Aceh,” kata Illiza.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kota Banda Aceh telah melibatkan Tim Penggerak PKK, Dinas Pendidikan, para keuchik, tokoh agama, tokoh masyarakat, kader gampong hingga lingkungan sekolah dalam kampanye pencegahan penyakit menular. Edukasi akan dilakukan secara masif melalui berbagai saluran komunikasi yang dekat dengan masyarakat.
Salah satu strategi yang disiapkan adalah memanfaatkan mimbar-mimbar keagamaan sebagai media sosialisasi. Menurut Illiza, pesan-pesan kesehatan akan disampaikan melalui ceramah, khutbah, dan kegiatan dakwah agar masyarakat memperoleh informasi yang benar terkait pencegahan penyakit menular dan pentingnya menjaga kesehatan keluarga.
“Kita akan mengangkat isu-isu kesehatan ini dalam corong-corong dakwah dan khutbah agar masyarakat semakin memahami pentingnya pencegahan penyakit,” ujarnya.
Selain fokus pada penanganan AIDS dan TBC, Pemko Banda Aceh juga menyoroti rendahnya cakupan imunisasi yang dinilai dapat memperbesar risiko penyebaran penyakit menular. Saat ini cakupan imunisasi dasar di Banda Aceh baru mencapai 33 persen, sementara 63 persen anak masih berstatus zero dose atau belum pernah menerima vaksin dasar seperti DPT, Hepatitis B, dan Hib.
Illiza mengungkapkan salah satu tantangan terbesar dalam meningkatkan cakupan imunisasi justru berasal dari penolakan sebagian orang tua. Berdasarkan temuan di lapangan, penolakan lebih banyak datang dari pihak ayah dibandingkan ibu. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya melalui tenaga kesehatan, tetapi juga melibatkan ulama dan tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh kuat di lingkungan keluarga.
“Rata-rata yang melarang itu kelompok laki-laki atau bapak-bapaknya. Karena itu kita akan melakukan pendekatan yang lebih agamis dengan melibatkan ulama dan berbagai pihak yang dipercaya masyarakat,” katanya.
Tak hanya itu, pemerintah juga berencana menggandeng influencer dan tokoh publik untuk menyampaikan edukasi kesehatan melalui media sosial. Langkah tersebut diharapkan mampu menangkal hoaks dan kesalahpahaman yang masih berkembang terkait imunisasi maupun penyakit menular.
Illiza menegaskan pencegahan menjadi kunci utama untuk menekan angka AIDS, TBC, dan penyakit menular lainnya. Menurutnya, semakin tinggi kesadaran masyarakat terhadap imunisasi dan pola hidup sehat, semakin besar peluang Banda Aceh menekan penyebaran penyakit dan melindungi generasi mendatang dari risiko kesehatan yang lebih serius. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK











