Banda Aceh – Pemerintah Kota Banda Aceh memperkuat strategi pencegahan dan penanganan AIDS, tuberkulosis (TBC), dan malaria (ATM) dengan menggandeng berbagai elemen masyarakat, mulai dari ulama, keuchik, kader gampong, hingga sekolah. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap masih ditemukannya kasus AIDS dan tingginya angka TBC di ibu kota Provinsi Aceh.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan penanganan penyakit menular tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Edukasi dan perubahan perilaku masyarakat harus dilakukan secara masif hingga ke tingkat keluarga agar upaya pencegahan berjalan lebih efektif.
“Kolaborasi lintas sektor terkait ATM terus kami perkuat. Kasus ini masih menjadi perhatian di Banda Aceh. Untuk malaria memang sudah sangat terkendali, tetapi jangan sampai muncul kembali. Sementara untuk AIDS dan TBC, upaya pencegahan harus terus diperkuat,” kata Illiza.
Menurutnya, pemerintah kini membangun gerakan bersama dengan melibatkan Tim Penggerak PKK, Dinas Pendidikan, aparatur gampong, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga kader kesehatan. Seluruh unsur tersebut akan menjadi ujung tombak penyebaran informasi kesehatan sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai bahaya penyakit menular dan pentingnya deteksi dini.
Pendekatan berbasis komunitas dipilih karena dinilai lebih efektif menjangkau masyarakat dibandingkan kampanye kesehatan yang hanya dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan. Melalui jaringan gampong dan tokoh masyarakat, informasi mengenai pencegahan AIDS, pengobatan TBC, hingga pentingnya imunisasi dapat disampaikan secara langsung kepada warga.
Selain itu, Pemerintah Kota Banda Aceh juga akan memanfaatkan forum-forum keagamaan sebagai sarana edukasi kesehatan. Materi terkait pencegahan penyakit menular akan disampaikan melalui ceramah, pengajian, dan khutbah agar pesan yang disampaikan lebih mudah diterima masyarakat.
“Kita ingin isu kesehatan menjadi perhatian bersama. Karena itu sosialisasi tidak hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan, tetapi juga melalui para ulama dan tokoh masyarakat yang dekat dengan warga,” ujarnya.
Illiza menilai keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan penyebaran penyakit menular. Apalagi Banda Aceh saat ini masih menghadapi tantangan rendahnya cakupan imunisasi yang berpotensi meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit yang dapat dicegah.
Dengan memperkuat kolaborasi lintas sektor, Pemerintah Kota Banda Aceh berharap penanganan AIDS, TBC, dan malaria tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga mampu membangun kesadaran masyarakat untuk melakukan pencegahan sejak dini. Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan angka kasus baru sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan tangguh terhadap ancaman penyakit menular. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK











