Banda Aceh – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, membuka Pelatihan Public Speaking bagi Perempuan yang berlangsung di Hotel Al-Hanifi, Lampriet, Banda Aceh, Jumat (10/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh 50 istri keuchik sekaligus penggerak PKK gampong sebagai upaya meningkatkan kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri perempuan dalam berbicara di depan publik.
Dalam sambutannya, Illiza menegaskan bahwa kemampuan public speaking merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki perempuan agar mampu berperan lebih aktif, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
“Pelatihan public speaking ini menjadi kesempatan bagi ibu-ibu penggerak PKK agar dapat menghidupkan berbagai kegiatan keagamaan di gampong, mendukung program-program lomba, serta meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat. Mudah-mudahan kemampuan public speaking ini terus berkembang di kalangan perempuan kita,” ujar Illiza.
Ia berharap pelatihan tersebut mampu melahirkan perempuan-perempuan yang percaya diri, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta mampu berkontribusi dalam mendukung pembangunan Kota Banda Aceh.
Menurut Illiza, kegiatan serupa juga diharapkan dapat terus dilaksanakan dengan cakupan peserta yang lebih luas agar semakin banyak perempuan memperoleh manfaat dari pelatihan tersebut.
“Semoga ke depan kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan dengan jangkauan yang lebih luas sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak perempuan di Kota Banda Aceh,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh, Tiara Sutari, menjelaskan pelatihan tersebut diikuti oleh 50 istri keuchik dari empat kecamatan, yakni Baiturrahman, Jaya Baru, Syiah Kuala, dan Banda Raya.
Menurut Tiara, kemampuan public speaking akan membantu para peserta menyampaikan gagasan secara lebih efektif sehingga mudah diterima masyarakat. Selain itu, keterampilan tersebut juga diharapkan mampu membentuk sosok pemimpin perempuan yang bertanggung jawab dan menjadi motor penggerak perubahan di lingkungannya.
“Kami berharap ibu-ibu keuchik dari empat kecamatan ini benar-benar dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat serta mampu menginspirasi perempuan lainnya,” ujar Tiara.
Editor: Amiruddin. MK














