Aceh Barat Daya – Instruksi agar ayah mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah memang memiliki nilai positif sebagai upaya memperkuat keterlibatan orang tua dalam pendidikan.
Namun, kebijakan tersebut tidak boleh berhenti pada aspek seremonial dan simbolik semata.
Masady, putra Abdya menyampaikan hal tersebut kepada media noa.co.id, Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, pemerintah perlu lebih fokus menyelesaikan persoalan mendasar yang selama ini menjadi tantangan dunia pendidikan.
“Melibatkan ayah dalam pendidikan tentu baik. Tetapi negara juga harus melihat kenyataan bahwa tidak semua anak memiliki kondisi keluarga yang sama,” kata Masady.
Ia menjelaskan, banyak anak tumbuh bersama ibu tunggal, wali, atau kakek dan nenek setelah kehilangan ayah.
Tidak sedikit pula ayah yang bekerja di luar daerah atau harus berangkat mencari nafkah sejak dini hari sehingga tidak mungkin hadir mengantar anak ke sekolah.
Menurutnya, apabila kebijakan tersebut dipersepsikan sebagai ukuran keterlibatan orang tua, maka dikhawatirkan akan memunculkan rasa berbeda.
Rasa berbeda tersebut, katanya, bagi anak-anak yang memang tidak memiliki kesempatan didampingi ayah.
“Jangan sampai ada anak yang merasa kurang beruntung hanya karena ayahnya tidak bisa hadir apalagi ada anak yatim,” katanya.
Katanya, hari pertama sekolah seharusnya menjadi momentum yang membangun rasa percaya diri dan semangat belajar bagi semua anak.
“Hari pertama sekolah adalah awal anak-anak beradaptasi di luar rumah, seharusnya, tanpa membedakan latar belakang keluarga,” ujarnya.
Masady menilai perhatian pemerintah seharusnya lebih mengarah pada penguatan ekonomi keluarga. Bukan simbolik belaka.
Sebab, kesejahteraan orang tua menjadi faktor penting yang menentukan kemampuan mereka mendampingi pendidikan anak dalam kehidupan sehari-hari.
“Ribuan ayah justru sedang bekerja ketika anak berangkat sekolah. Ada nelayan yang sudah melaut sebelum subuh, petani yang menuju sawah, buruh, pedagang, hingga pekerja harian yang mencari nafkah agar anak-anak mereka tetap bisa bersekolah. Itu juga bentuk tanggung jawab sebagai seorang ayah,” katanya.
Ia menegaskan, kesempatan kerja yang lebih luas, pendapatan yang layak, dan perlindungan terhadap pekerja akan memberikan ruang lebih besar bagi orang tua untuk terlibat dalam pendidikan anak, bukan hanya pada hari pertama masuk sekolah.
Selain itu, Masady mengingatkan masih banyak persoalan pendidikan yang membutuhkan perhatian serius, terutama di daerah.
Mulai dari peningkatan mutu pembelajaran, pemerataan fasilitas pendidikan, hingga perbaikan sarana dan prasarana sekolah.
Menurutnya, kesejahteraan guru juga tidak boleh terabaikan dengan apapun alasannya.
Ia menyinggung persoalan guru PPPK paruh waktu yang hingga kini masih menjadi perhatian publik sebagai bukti bahwa kualitas pendidikan tidak bisa terpisahkan dari kepastian hak-hak tenaga pendidik.
“Guru yang sejahtera akan lebih fokus mendidik. Kalau persoalan kesejahteraan mereka belum selesai, bagaimana kita ingin meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh,” ujarnya.
Masady menegaskan, kebijakan pendidikan semestinya menyentuh akar persoalan, bukan sekadar membangun simbol yang hanya berlangsung sesaat.
“Tolak ukur keberhasilan pendidikan bukan dari siapa yang mengantar anak pada hari pertama sekolah, tetapi ketika setiap anak memperoleh hak belajar yang setara, setiap guru mendapatkan penghargaan yang layak, dan setiap keluarga memiliki kemampuan ekonomi untuk mendukung pendidikan anak secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar














