Aceh Barat Daya — Kondisi Jembatan Cot Seumantok di Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), semakin memprihatinkan.
Kedua abutmen atau struktur pangkal jembatan, baik di sisi hulu maupun hilir, sama-sama memperlihatkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Kondisi tersebut terlihat dari terbukanya bagian bawah struktur, sementara material tanah di sekitar pangkal jembatan mengalami pengikisan.
Area sungai di bawah jembatan juga tampak ada lumpur, pasir dan material batu.
Kerusakan pada kedua pangkal jembatan ini menjadi perhatian serius karena menyangkut kekuatan struktur penopang infrastruktur jembatan dengan anggaran puluhan miliar rupiah.
Harun, salah seorang warga, menyoroti kondisi jembatan sekaligus dugaan aktivitas pengambilan material galian C di sekitar aliran sungai.
Ia mengaku bersama sejumlah warga sekitar kerap melihat kendaraan pengangkut material keluar dari lokasi yang mereka duga berkaitan dengan salah satu perusahaan Asphalt Mixing Plant (AMP).
“Kami bersama warga sekitar sering melihat kendaraan pengangkut material keluar dari lokasi. Ini perlu penusuran lebih lanjut, dari mana material tersebut berasal, apakah memiliki izin, dan apakah aktivitas pengambilannya memenuhi ketentuan,” kata Harun.
Ia menjelaskan, lokasi perusahaan AMP tersebut bukan berada di sekitar Jembatan Cot Seumantok, melainkan jauh ke bagian hilir sungai.
Karena itu, pemerintah perlu menelusuri sumber material dan jalur pengangkutannya untuk memastikan ada atau tidaknya kaitan dengan perubahan kondisi sungai di sekitar jembatan.
“Kami khawatir jika pengambilan material sungai berlangsung secara berlebihan, dampaknya bisa mengubah kondisi aliran dan memperparah pengikisan tanah. Jangan sampai aktivitas yang menguntungkan pihak tertentu justru mengancam infrastruktur menggunakan uang negara,” tegasnya.
Jembatan Cot Seumantok mulai dibangun secara bertahap sejak 2020 dan diresmikan pada 1 Maret 2022.
Pemerintah membangun infrastruktur tersebut menggunakan Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) dengan anggaran sekitar Rp38 miliar.
Jembatan sepanjang kurang lebih 160 meter itu memiliki peran penting dalam mendukung akses masyarakat dan aktivitas ekonomi di Kecamatan Babahrot.
Melihat kondisi kedua abutmen yang sama-sama memprihatinkan, Harun meminta pemerintah tidak menunda pemeriksaan teknis dan penanganan di lapangan.
“Jembatan ini pembangunannya dengan anggaran puluhan miliar rupiah, bukan uang sedikit. Sangat disayangkan jika kedua pangkal jembatan sama-sama mengalami kondisi memprihatinkan, tetapi tidak segera mendapat penanganan. Kami berharap pemerintah turun langsung, memeriksa kekuatan struktur, menelusuri dugaan galian C, dan mengambil tindakan jika ada pelanggaran. Jangan tunggu sampai jembatan rusak parah atau membahayakan masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Abdya bersama instansi teknis perlu segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kedua abutmen, termasuk kondisi tanah, fondasi dan kemungkinan gerusan di sekitar struktur jembatan.
Aparat penegak hukum dan instansi terkait juga perlu menelusuri legalitas sumber material serta aktivitas pengangkutannya. Jika ada pelanggaran, aparat harus mengambil tindakan sesuai ketentuan hukum.
Jangan sampai infrastruktur yang baru beberapa tahun beroperasi itu menghadapi kerusakan lebih serius tanpa penanganan. Keselamatan masyarakat dan perlindungan aset negara harus menjadi prioritas.
Dugaan aktivitas pengambilan material galian C serta keterkaitannya dengan perusahaan AMP masih memerlukan verifikasi dari instansi berwenang.
Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar















