Home / Advetorial

Sabtu, 12 Oktober 2024 - 16:17 WIB

Museum Tsunami Sigli: Mengenang Tragedi dan Menjaga Sejarah yang Memilukan

mm Redaksi

Monumen Gedung Museum Tsunami di Kota Sigli. NOA.co.id

Monumen Gedung Museum Tsunami di Kota Sigli. NOA.co.id

Pidie – Bencana alam tsunami pada Desember 2004 lalu meluluhlantakkan Provinsi Aceh. Tak terkecuali juga terdampak di kabupaten/kota yang ada di ujung paling barat pulau Sumatera itu. Kini, sudah 20 tahun tragedi mengiris hati di seluruh dunia berlalu.

Sebanyak 226.308 jiwa meninggal dunia yang bermukim di Provinsi Aceh. Dari jumlah itu ternyata ada sekira 2.686 jiwa merupakan warga Kabupaten Pidie. Sebagai pengingat dan ‘melawan lupa’, pemerintah setempat mendirikan monumen bersejarah dahsyatnya tsunami Aceh tepat di tengah ibukota Pidie, Sigli.

Gedung sederhana yang dibangun di atas areal tiga persegi dengan luas lebih kurang 20 kali 15 meter. Memasuki pintu masuk museum tampak terlihat sebuah bola dunia berwarna emas yang berada di halaman dan ayat suci Al-Quran yang terukir di dindingnya.

Museum Tsunami di Kota Sigli. Foto: NOA.co.id

“Ya, bang, sudah 20 tahun lalu tsunami mendera kami. Semuanya luluh lantak, rata bang,” tutur Ferdi yang merupakan warga Sigli, Sabtu (12/10/2024).

Baca Juga :  DPKA Gelar Storytelling untuk Tumbuhkan Minat Baca Anak Sekolah Dasar

Bertepatan itu pula, saat Ferdi yang seharinya bekerja sebagai sopir travel singgah di Sigli tak lupa melihat monumen tsunami yang terletak di pintu gerbang Pantai Pelangi, dekat rumah rumah dinas Bupati dan Meuligoe Wakil Bupati Pidie itu.

“Dan kadang kalau tamu saya mau singgah di monumen ini, ya saya bawa. Apalagi saya asli orang sini, bang,” lirih Ferdi.

Ferdi sendiri mengaku sejumlah kerabat, sanak famili dan tetangga turut meninggal dunia akibat keganasan tsunami Aceh.

“Kita cuma bisa mengirim doa saja bang, semoga mereka yang lebih dulu meninggalkan kita menghadap Allah SWT secara husnul khatimah,” kata Ferdi menambahkan.

Senada diungkap Usman. Pria 50 tahun ini mencari nafkah sebagai pedagang keliling di kawasan tersebut.

Katanya, pengunjung di monumen tsunami memang tak seramai dulu. Namun setiap hari pasti ada saja orang yang datang ke monumen tsunami Sigli.

Baca Juga :  Pemko Banda Aceh Serius Tangani Anak Tidak Sekolah, Simak Caranya!

“Terkadang pengunjung menyempatkan berdoa di monumen itu. Ya, sambil istirahat sekalian berwisata religi, mungkin begitu,” kata Usman.

Gedung ini memiliki dua lantai, empat pintu masuk, tiga pintu di antaranya tidak menggunakan daun pintu, dan bisa selalu dimasuki kapan saja, sedangkan satu lagi menggunakan daun pintu kaca yang tertutup rapat. Di sisi kirinya terdapat Mushola yang pintunya juga terkunci rapat.

Meski tidak sebesar Museum Tsunami Aceh yang ada di Banda Aceh, Gedung Museum Tsunami di Kota Sigli, juga unik dan indah, jika dilihat dari luar, dindingnya berbentuk melengkung.

Tingginya kurang lebih 6 meter, dengan warna latar hitam bertuliskan kaligrafi petikan ayat alquran dan terjemahan, surat Ala’raf, dan Al-Baqarah. Dengan menyaksikan foto-foto ini, wisatawan bisa mendapatkan sedikit gambaran kondisi Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya yang kala itu porak-poranda diterjang tsunami.

Baca Juga :  DPKA Aceh Tekankan Pentingnya Validitas Data untuk Program Literasi dan Kearsipan
Museum Tsunami di Kota Sigli. Foto: NOA.co.id

Di sekitar museum, para pengunjung juga menikmati kuliner dengan mencicipi berbagai makanan khas Pidie. Karena, di sini juga terdapat beberapa café, dan restoran yang bisa anda dikunjungi. Selain itu, juga terdapat beberapa penginapan dan hotel jika ingin bermalam.

Akses menuju ke Monumen Tsunami Sigli juga terbilang sangat mudah, karena memang lokasinya dekat dengan pusat kota. Kondisi jalan yang sudah teraspal dengan baik membuat para wisatawan bisa menggunakan kendaraan roda empat untuk berkunjung ke monumen tersebut.

Tepat di sebelah dinding tersebut, para pengunjung akan menemukan sebuah lorong yang di mana pada dindingnya terpahat nama-nama korban tsunami di kabupaten Pidie dan Pidie Jaya pada tahun 2004 silam. Deretan nama-nama tersebut seakan mengingatkan para pengunjung dengan keganasan gelombang tsunami yang kala itu menyapu bumi Serambi Mekkah.

Share :

Baca Juga

Advetorial

Bukan Lagi Menunggu, Pustakawan Dituntut Jemput Bola di Era Media Sosial

Advetorial

Almuniza: Desa Suka Tani Jantho Kekuatan Baru Pariwisata di Aceh Besar

Advetorial

Fasilitasi Eksportir UKM, Kemendag Luncurkan Platform Pelayanan Satu Pintu “InaExport”, Ini Kata Disperindag Aceh

Advetorial

Dessy Maulidha Dikukuhkan sebagai Bunda Literasi Kota Banda Aceh, Dorong Kolaborasi untuk Budaya Membaca

Advetorial

Disperindagkop dan UKM Kabupaten Simeulue Dukung UMKM dengan Akses Modal

Advetorial

Sebanyak Tujuh Pegawai Sekretariat Baitul Mal Aceh Naik Pangkat

Advetorial

Waterboom di Pidie Jaya Jadi Tempat Rekreasi Impian untuk Anak-anak

Advetorial

Literasi Digital Jadi Kunci Cegah untuk Masyarakat Kritis dan Kreatif