Jakarta – Pada masa reses beberapa waktu lalu, Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) melakukan kunjungan langsung ke PPLS (Pusat Pengendali Lumpur Lapindo Sidoarjo). Kunjungan ini merupakan kedatangannya untuk kesekian kalinya.
Kehadirannya saat itu, disambut oleh Kabid Perencanaan PPLS, Sulyana beserta jajarannya. BHS juga menyampaikan niat atas kunjungannya tersebut.
“Saya ingin mengetahui jumlah lumpur yang dialirkan ke Sungai Porong melalui pipa dengan tekanan pompa rata rata per tahunnya adalah 21 juta meter kibik. Dimana jumlah perbandingan lumpur dengan air 80% air, dan 20% lumpur yang dialirkan keluar menuju Sungai Porong,” kata BHS dikutip dalam akun instagram pribadinya @bambangharyos.
Sedangkan, lanjut dia, jumlah debit Lumpur Lapindo yang keluar dari sumber lumpur sejumlah 30 – 50.000 meter kibik per hari dengan komposisi 40% lumpur dan 60% air.
Dirinya menjelaskan bahwa penanganan pembuangan air dan lumpur yang biasanya sejumlah 21 juta meter kibik per tahun, saat ini diturunkan menjadi 13 – 15 juta meter kibik per tahun karena efisiensi anggaran.
“Saya kurang setuju efisiensi dilakukan di aliran pembuangan Lumpur Lapindo karena bila terjadi genangan air dan lumpur tidak terkendali dalam jumlah yang besar akan mengakibatkan jebol nya tanggul akibat beban air yang melebihi kapasitas. Dan ini membahayakan keselamatan Masyarakat Publik di sekitar dinding Lumpur Lapindo termasuk jalur kereta api,” jelasnya.
Sehingga, kata dia, membahayakan terhadap nyawa, barang, dan uang publik. Perlindungan nyawa publik tidak boleh ditawar dengan efisiensi.
“Keselamatan publik sepenuhnya menjadi tanggung jawab dari negara sesuai UUD Tahun 1945. Saya juga menekankan karena Lumpur Lapindo saat ini masih dalam kondisi kebencanaan, ditambah dengan adanya 2 sesar, yaitu siring dan watu kosek yang sewaktu waktu bisa bergeser, kondisi ini sangat berbahaya terhadap kestabilan tanah penduduk di sekitar lumpur,” tuturnya.
Apalagi, menurutnya, terjadi pengurangan air tanah akibat semburan Lapindo dalam radius 5 kilometer bisa terjadi penurunan tanah akibat berkurangnya air tanah yang di bawah permukaan bumi.
“Karena itu BASARNAS harus siap di wilayah tersebut dan memasang Early Warning System Sirine bila munculnya bencana yang membahayakan publik. Dan sudah ditentukan jalur evakuasi menuju ke tempat yang aman dengan melakukan simulasi simulasi secara maksimal. Ingat Lapindo masih dalam bencana,” tandasnya.












