Home / Aceh Besar / Pemerintah

Senin, 16 Februari 2026 - 11:18 WIB

Dugaan Penyalahgunaan Anggaran Rumah Tangga Bupati Aceh Besar, Pengamat Desak APH Turun Tangan

mm Redaksi

Dr. Usman Lamreung. Foto: Dok. Istimewa

Dr. Usman Lamreung. Foto: Dok. Istimewa

Kota Jantho — Dugaan ketidakwajaran penggunaan anggaran rumah tangga Bupati Aceh Besar tahun 2025 mulai menjadi sorotan publik. Pengamat kebijakan publik dan politik, Dr. Usman Lamreung, mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) segera melakukan penyelidikan menyeluruh untuk memastikan tidak terjadi penyalahgunaan keuangan daerah.

Menurut Usman, langkah hukum penting dilakukan karena anggaran rumah tangga kepala daerah merupakan pos belanja yang rawan diselewengkan, terutama pada komponen operasional seperti konsumsi, perawatan, dan fasilitas rumah dinas. Tanpa pengawasan ketat, pos ini kerap menjadi “area abu-abu” dalam tata kelola keuangan pemerintah daerah.

“APH harus segera memeriksa dokumen dan bukti pengeluaran secara detail. Yang paling penting memastikan anggaran itu benar-benar digunakan untuk kepentingan jabatan, bukan untuk kebutuhan pribadi,” kata Usman, Minggu (15/2/2026).

Baca Juga :  Mendagri Apresiasi Kinerja Ditjen Dukcapil

Ia menegaskan, kepolisian dan kejaksaan memiliki dasar hukum kuat untuk melakukan penyelidikan, baik berdasarkan laporan masyarakat maupun temuan audit lembaga resmi seperti BPK. Karena itu, ia mendesak Polres dan Kejari Aceh Besar segera melakukan audit investigatif terhadap alokasi dan realisasi anggaran rumah tangga bupati tahun 2025.

“Jika ada penyimpangan, ini bukan sekadar persoalan administrasi. Ini bisa masuk kategori dugaan tindak pidana korupsi,” tegasnya.
Sorotan semakin tajam karena hingga setahun sejak dilantik pada 13 Februari 2025, Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris—yang dikenal sebagai Syech Muharram—disebut belum menempati Meuligoe Bupati di Kota Jantho. Padahal, anggaran belanja rumah tangga Meuligoe tetap dialokasikan penuh, mencapai sekitar Rp32,2 juta per bulan atau hampir Rp390 juta dalam setahun.

Baca Juga :  Menuju MTQ Aceh 2025, Aceh Besar Mulai Gelar STQ 

“Secara logika publik, ini menimbulkan tanda tanya besar. Rumah dinas tidak ditempati, tetapi anggaran tetap berjalan. Ini harus dijelaskan secara terbuka,” ujar Usman.

Ia juga menilai pemerintah daerah belum menunjukkan transparansi dalam membuka data penggunaan anggaran tersebut. Menurutnya, dengan nilai yang tidak kecil, publik berhak mengetahui secara rinci ke mana uang daerah dibelanjakan dan apa manfaat konkretnya.
“Jangan sampai ada kesan ditutup-tutupi. Transparansi adalah kewajiban, bukan pilihan. Jika pemerintah bersih, tidak ada alasan untuk takut membuka data,” katanya.

Baca Juga :  Pj Gubernur Aceh Tinjau Verifikasi Pembangunan Rumah Layak Huni di Kuta Baro dan Montasik

Usman menegaskan, penyelidikan bukan semata mencari kesalahan, melainkan memastikan tata kelola anggaran berjalan sesuai prinsip akuntabilitas dan hukum.

Ia mengingatkan, setiap rupiah uang daerah adalah uang rakyat yang harus dipertanggungjawabkan secara terbuka.

“Ini soal kepercayaan publik. Jika dibiarkan tanpa klarifikasi, yang rusak bukan hanya anggaran, tetapi juga legitimasi pemerintah daerah di mata masyarakat,” pungkasnya.

Editor: Amiruddin. MK

Share :

Baca Juga

Daerah

Delapan Paket Tender tayang di LPSE Aceh Singkil disaat polemik Empat Pulau

Daerah

Kunjungi Gedung DPRA, Djamari Chaniago: Sejarah Baru Menko Polkam Datang ke DPR Aceh

Nasional

Mendagri Dukung Penuh Peluncuran 80.000 Kopdeskel Merah Putih 

Internasional

Kemlu RI Libatkan Aceh dalam Upaya Dorong Proses Damai di Myanmar

Aceh Besar

Waduk Keuliling Krisis Debit, Hanya Dukung Suplai Air untuk 600 Hektar

Aceh Jaya

Pemkab Aceh Jaya Buka Pendaftaran Calon Keuchik, Ini Jadwal dan Tahapannya

Aceh Besar

Plt Sekda Aceh Besar Lepas 27 Peserta Pawai Takbir Keliling

Aceh Barat

Pj Bupati Mahdi Efendi Buka Musrenbang Pante Ceureumen