Bireuen – Arus lalu lintas di jalur nasional Banda Aceh–Medan, tepatnya di kawasan Jembatan Bailey, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, mengalami kemacetan parah pada Ahad malam, 11 Januari 2026. Kepadatan kendaraan terjadi sejak pukul 20.00 WIB hingga pukul 21.30 WIB dan hingga malam hari arus lalu lintas masih belum berjalan lancar.
Kemacetan dipicu oleh keterbatasan kapasitas Jembatan Bailey yang berfungsi sebagai jembatan darurat. Selain itu, penerapan sistem buka-tutup arus kendaraan menyebabkan antrean panjang dari kedua arah, terutama pada malam hari saat volume kendaraan meningkat.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan mengular hingga beberapa kilometer. Kendaraan besar seperti truk dan bus antarprovinsi mendominasi arus lalu lintas, sehingga memperlambat pergerakan kendaraan lainnya.
Sejumlah pengendara mengeluhkan lamanya waktu tunggu untuk dapat melintasi jembatan. Salah seorang pengguna jalan, Nadia, meminta pihak berwenang mengatur arus lalu lintas dengan lebih baik agar kemacetan tidak semakin parah.
“Seharusnya ada pengaturan yang jelas. Misalnya, kendaraan dari arah Medan menuju Banda Aceh dialihkan melalui jalur Awe Geutah, sementara dari Banda Aceh ke Medan tetap melalui Kuta Blang,” ujar Nadia saat ditemui di lokasi kemacetan.
Menurutnya, pengaturan arus yang terarah akan membantu mengurangi penumpukan kendaraan di satu titik, terutama di sekitar Jembatan Bailey yang memiliki kapasitas terbatas.
Hingga pukul 21.30 WIB, arus lalu lintas di kawasan tersebut masih tersendat dan belum kembali normal. Petugas gabungan dari kepolisian dan instansi terkait terus melakukan pengaturan lalu lintas untuk mengurai antrean kendaraan.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penanggung jawab jalan lintas nasional Banda Aceh–Medan terkait penanganan kemacetan maupun skema pengaturan arus lalu lintas di lokasi tersebut.
Masyarakat diimbau tetap bersabar, mematuhi arahan petugas di lapangan, serta mempertimbangkan penggunaan jalur alternatif apabila tidak memiliki kepentingan mendesak selama jembatan darurat masih difungsikan.
Editor: Amiruddin. MK









