Home / Daerah / Pemerintah / Simeulue

Kamis, 8 Mei 2025 - 12:27 WIB

Tambatan Perahu Mangkrak di Simeulue, Nelayan Terlantar

Argamsyah

Potret dua tambatan perahu yang terbengkalai di Desa Labuhan Bajau dan Desa Langi. Foto: Dok. Argam/Noa.co.id.

Potret dua tambatan perahu yang terbengkalai di Desa Labuhan Bajau dan Desa Langi. Foto: Dok. Argam/Noa.co.id.

Simeulue – Harapan nelayan di Desa Labuhan Bajau, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue, untuk memiliki tambatan perahu layak, kini tinggal puing. Kerangka proyek yang mangkrak berdiri di pesisir, menjadi monumen janji pembangunan yang tak kunjung terealisasi.

Pemandangan serupa terjadi di Desa Langi, Kecamatan Alafan. Dua proyek tambatan perahu yang digadang-gadang menopang ekonomi masyarakat pesisir itu kini terbengkalai, meninggalkan nelayan dalam ketidakpastian, Kamis (8/5/2025).

“Kalau sudah seperti ini, kepada siapa lagi kami harus mengadu?” kata seorang warga Labuhan Bajau, ditemui akhir pekan lalu.

Sebagian besar warga di kedua desa tersebut menggantungkan hidup dari laut. Tanpa tambatan yang layak, mereka kesulitan melaut, apalagi saat cuaca buruk menerjang.

Baca Juga :  Sekda Aceh Serahkan 109 SK PPPK Tenaga Guru di Simeulue

Sejak awal, pengerjaan proyek tambatan itu menuai kecurigaan warga. Pelaksanaan dinilai lamban, pengawasan minim, dan isu penyimpangan anggaran beredar di tengah masyarakat.

“Kami hanya ingin tambatan itu selesai, bisa dipakai untuk mencari nafkah. Tapi sampai sekarang, semua hanya janji,” ujarnya.

Informasi yang diperoleh Noa.co.id menyebutkan, proyek itu kini dalam pemantauan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. DPRK Simeulue juga telah membentuk panitia khusus (Pansus) untuk mengusut proyek tersebut.

Baca Juga :  Mobil Dinas Pj Bupati Simeulue Siap Layani Antar Pengantin

Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pansus maupun anggota dewan terkait hasil investigasi mereka di lapangan.

Nelayan mendesak pemerintah daerah dan DPRK Simeulue tak berhenti pada pembentukan pansus. Mereka meminta langkah konkret untuk menyelamatkan proyek dan menindak tegas pihak-pihak yang bertanggung jawab.

“Kami tidak butuh janji lagi. Kami butuh aksi nyata,” kata seorang nelayan di Desa Langi.

Ia mengkhawatirkan, lemahnya pengawasan dan evaluasi proyek akan menjadi preseden buruk bagi pembangunan infrastruktur di wilayah pesisir Simeulue. “Ini soal hidup mati ratusan keluarga nelayan,” ujarnya.

Baca Juga :  Dua Tambatan Perahu Mangkrak di Simeulue, DPRK Bentuk Tim Pansus

Masyarakat juga menuntut DPRK mempercepat kerja pansus dan mempublikasikan hasil investigasi. “Transparansi adalah kunci. Jangan sampai masyarakat kembali dikecewakan,” katanya.

Bagi masyarakat pesisir, tambatan perahu bukan sekadar proyek pembangunan. Namun, adalah urat nadi ekonomi. Tanpa itu, aktivitas melaut yang menopang kehidupan warga terancam lumpuh.

Di tengah tekanan ekonomi dan cuaca laut yang kian sulit diprediksi, tambatan perahu menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda.

Hingga kini, nelayan masih menunggu kepastian. “Kami ingin tambatan perahu kami rampung. Bukan jadi tugu kegagalan di tepi pantai,” ujar seorang nelayan.

Editor: Amiruddin MK

Share :

Baca Juga

Pemerintah

Terima Kunjungan Dubes Jerman, Pj Gubernur Sebut Aceh Terbuka untuk Investasi

Internasional

Presiden Joko Widodo Ajak Negara Global South Perkuat Solidaritas Hadapi Tantangan Global

Daerah

Komisi VIII DPR RI Desak Pemerintah Tetapkan Banjir Aceh sebagai Bencana Nasional, Sekda Paparkan Kerusakan 165 Ribu Rumah

Daerah

Pemulihan Pasca Banjir Hidrometeorologi Aceh Dinilai Masih Memerlukan Percepatan

Daerah

Action Expo UMKM Akhiri Rangkaian Kegiatan HUT Bank Aceh ke 50

Daerah

Bupati Lantik Camat se-Nagan Raya, HMI: Apresiasi sebab ada salah satunya Perempuan

Nasional

Presiden Prabowo Anugerahkan Tanda Kehormatan bagi Pimpinan Kejaksaan 

Daerah

Komitmen Kemenkumham Aceh Sukseskan Pelatihan Coaching & Mentoring BPSDM Hukum dan HAM