Banda Aceh – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menyebut pameran foto bertajuk “Prahara Pulau Emas” memiliki nilai penting sebagai rekam jejak sejarah sekaligus media pembelajaran dalam menghadapi bencana di masa mendatang.
Hal tersebut disampaikan Illiza saat membuka roadshow pameran foto yang digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) di Museum Tsunami Aceh, Senin (3/8/2026).
Dalam sambutannya, Illiza menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara yang telah menggagas pameran tersebut. Menurutnya, dokumentasi visual dari berbagai peristiwa kebencanaan memiliki makna yang sangat penting, baik bagi masyarakat maupun pemerintah.
“Kami Pemerintah Kota Banda Aceh memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pihak yang telah menggagas roadshow pameran foto bertema Prahara Pulau Emas. Kegiatan ini sangat penting untuk mengabadikan sebuah kejadian, meski sayangnya masih banyak yang belum melihatnya sebagai sesuatu yang sangat sakral,” ujar Illiza.
Ia mengaku merasa terhormat karena Banda Aceh menjadi kota kedua yang disinggahi dalam rangkaian roadshow pameran tersebut sebelum nantinya berakhir di Kota Medan.
Menurut Illiza, setiap foto yang dipamerkan bukan sekadar gambar, melainkan rekaman sejarah yang menggambarkan secara nyata situasi ketika bencana terjadi. Melalui karya para pewarta foto, masyarakat dapat melihat langsung penderitaan para korban, suasana di lokasi bencana, hingga semangat masyarakat untuk bangkit kembali.
“Foto-foto yang diabadikan pewarta foto jauh lebih berbicara. Mereka mampu menggambarkan penderitaan yang sesungguhnya, jerit tangis masyarakat, sekaligus menghadirkan harapan. Karya-karya itu juga mampu menggugah banyak pihak untuk hadir membantu proses pemulihan,” katanya.
Illiza menilai para pewarta foto juga memiliki peran sebagai relawan kemanusiaan. Mereka berani berada di lokasi-lokasi terdampak bencana demi mendokumentasikan setiap peristiwa yang kemudian menjadi bagian dari catatan sejarah bangsa.
Menurutnya, dokumentasi tersebut akan menjadi bahan refleksi sekaligus inspirasi bagi banyak pihak untuk memperkuat solidaritas dan mempercepat proses pemulihan pascabencana.
“Rekam jejak itu nantinya menjadi bahan refleksi, menginspirasi, sekaligus mendorong berbagai pihak untuk ikut membantu agar masyarakat dapat bangkit kembali,” ujarnya.
Ia menambahkan, foto-foto kebencanaan tidak hanya berfungsi sebagai arsip sejarah, tetapi juga dapat menjadi referensi penting dalam penyusunan kebijakan mitigasi dan penanggulangan bencana di masa mendatang.
Editor: Amiruddin. MK











