Banda Aceh – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Tsunami Aceh, sukses kembali menggelar kegiatan bertajuk “Belajar Bersama di Museum” yang diselenggarakan selama empat hari berturut-turut, mulai dari hari Senin hingga Kamis, tanggal 20 hingga 23 Juli 2026 berpusat di Aula Lantai II UPTD Museum Tsunami Aceh yang berlokasi di Jalan Sultan Iskandar Muda Nomor 3, Banda Aceh. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi, sangat mendukung kegiatan ini karena memberikan edukasi kebencanaan bagi kalangan pelajar.
Pada tahun ini, kegiatan edukasi tersebut mengangkat tema “Tsunami Brave: Mengubah Ketakutan Menjadi Ketangguhan Bersama”. Program ini menyasar peserta dari kalangan siswa dan siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pemilihan pelajar SMK sebagai peserta utama ditujukan untuk membekali generasi muda pada usia produktif dengan pengetahuan mitigasi bencana yang aplikatif, kesiapsiagaan mental, dan keterampilan bertahan hidup yang praktis.
Guna memberikan pemahaman yang komprehensif dan multidisiplin, UPTD Museum Tsunami Aceh menghadirkan jajaran narasumber ahli dari berbagai latar belakang keilmuan dan praktisi kebencanaan. Para pakar yang diundang secara khusus untuk memberikan materi edukasi meliputi: Yusri Kasim, T. Erwin Irham, dr. Meilya Silvalila serta Desi Marlizar.
Berdasarkan rangkaian kegiatan yang telah berjalan, para peserta tidak hanya menerima materi di dalam kelas, tetapi juga mempraktikkan langsung simulasi kebencanaan. Hal ini terlihat dari agenda praktik Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) yang dipandu langsung oleh ahli medis, sesi diskusi interaktif, serta penelusuran ruang pameran museum untuk mempelajari sejarah dan kearifan lokal mitigasi bencana Aceh.
Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, M. Syahputra Azwar, dalam kesempatan ini menegaskan visi besar institusinya. Beliau menyampaikan bahwa Museum Tsunami bukan sekadar monumen pengingat masa lalu, melainkan sebuah ruang publik yang aktif mengedukasi masyarakat demi menyelamatkan nyawa di masa depan.
“Sesuai dengan tema kita tahun ini, ‘Tsunami Brave’, tujuan utama kami adalah mengubah paradigma dan rasa trauma atau ketakutan akan bencana di masa lalu, menjadi sebuah kekuatan dan ketangguhan bersama,” ungkap Syahputra.
Generasi muda Aceh, khususnya para siswa-siswi SMK yang hadir pada kegiatan ini, tambahnya, adalah pewaris kekuatan dan ketangguhan masyarakat Aceh. Melalui kegiatan di Aula Lantai II ini, pihak museum ingin memastikan bahwa mereka memiliki literasi kebencanaan yang mumpuni.
“Ketika mereka dibekali dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan dari para narasumber yang luar biasa, mereka tidak akan lagi panik saat menghadapi krisis, melainkan menjadi individu yang tangguh dan mampu melindungi keluarga serta lingkungan sekitarnya,” kata Syahputra.
Turut memberikan penekanan pada aspek teknis dan kurikulum kegiatan, Kepala Seksi Edukasi dan Preparasi UPTD Museum Tsunami Aceh, Abdul Lathief, menjelaskan bahwa metodologi pembelajaran yang diterapkan sangat menyesuaikan dengan karakter generasi masa kini.
“Program ini dirancang sebagai paket edukasi yang tidak membosankan. Kami mengkombinasikan metode pembelajaran visual, auditori, dan kinestetik. Anak-anak tidak hanya duduk mendengarkan dr. Meilya atau pemateri lainnya, tetapi mereka langsung turun mempraktikkan cara melakukan CPR dan simulasi evakuasi mandiri. Inilah mengapa pendekatan preparasi dan edukasi di museum harus dinamis,” ujar Lathief.
Harapan pihak museum tsunami, kegiatan belajar bersama di museum ini dapat menjadi salah satu role model kegiatan edukasi luar ruang bagi sekolah-sekolah di seluruh Aceh. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK










