Aceh Barat Daya — Kejadian hewan ternak kerbau yang masuk ke dalam area pekarangan Masjid Agung Baitul Ghafur, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), kembali terulang.
Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (28/12/2025) dan menuai sorotan serta keluhan dari masyarakat karena dinilai mencerminkan lemahnya pengawasan di lingkungan masjid kebanggaan masyarakat Abdya itu.
Berdasarkan pantauan di lokasi, segerombolan kerbau terlihat bebas berkeliaran di area pekarangan masjid tanpa pengawasan.
Hewan ternak tersebut tampak melintas di sekitar halaman utama, area yang kerap digunakan jamaah untuk beraktivitas sebelum dan sesudah melaksanakan ibadah.
Kondisi ini pun membuat sebagian jamaah merasa terganggu, terlebih Masjid Agung Baitul Ghafur merupakan pusat kegiatan ibadah, sosial, dan keagamaan masyarakat Abdya yang dikelola oleh Pemerintah setempat.
Sejumlah warga menyayangkan kejadian tersebut kembali terjadi, mengingat masjid tersebut memiliki peran penting sebagai simbol religius dan kebanggaan daerah dibawah Dinas Syariat Islam Kabupaten Abdya.
Selain dinilai mengganggu kenyamanan, keberadaan hewan ternak di lingkungan masjid juga dianggap tidak pantas dan berpotensi menimbulkan persoalan kebersihan.
Salah seorang warga setempat, Abdulah, mengaku heran karena peristiwa serupa terus berulang tanpa adanya solusi nyata dari pihak terkait. Ia menyebutkan bahwa kejadian kerbau masuk ke area masjid bukan kali pertama terjadi.
“Ini bukan kejadian pertama, sudah berulang kali kerbau masuk ke pekarangan Masjid Agung. Kami mempertanyakan, ke mana penjagaan yang seharusnya bertugas di masjid ini,” ujar Abdulah kepada wartawan.
Menurut Abdullah, seharusnya pengelola masjid memiliki sistem pengawasan yang lebih ketat, mengingat Masjid Agung Baitul Ghafur bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi rujukan bagi tamu dari luar daerah yang berkunjung ke Abdya.
“Masjid ini ikon daerah. Kalau terus dibiarkan seperti ini, tentu citranya akan buruk di mata masyarakat dan tamu yang datang,” tambahnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya yang menilai bahwa keberadaan hewan ternak di area masjid menunjukkan kurangnya pengelolaan lingkungan sekitar.
Warga menduga lemahnya penjagaan menjadi salah satu penyebab hewan ternak mudah masuk ke pekarangan masjid, mengingat masjid kebanggaan masyarakat Abdya itu memiliki pagar yang cukup memadai.
Selain mengganggu kenyamanan jamaah, warga juga mengkhawatirkan dampak kebersihan yang ditimbulkan. Kotoran hewan ternak di area masjid dinilai berpotensi mencemari lingkungan serta mengganggu kekhusyukan ibadah.
“Masjid seharusnya bersih dan terjaga. Kalau ada kerbau masuk, otomatis ada kotoran dan bau yang mengganggu. Ini sangat disayangkan,” ungkap Rendi salah seorang jamaah dari Kecamatan Blangpidie.
Masyarakat berharap pihak pengelola Masjid Agung Baitul Ghafur bersama instansi terkait, termasuk pemerintah daerah, dapat segera mengambil langkah tegas dan konkret. Langkah tersebut dinilai penting agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang.
Warga menilai, solusi yang dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan penjagaan di lingkungan masjid, serta melakukan koordinasi dengan pemilik ternak agar tidak melepas hewan mereka secara sembarangan, khususnya di kawasan fasilitas umum dan tempat ibadah.
“Harus ada ketegasan. Kalau perlu, pemilik ternak diberikan peringatan atau sanksi supaya ada efek jera,” kata Abdullah.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola Masjid Agung Baitul Ghafur maupun instansi terkait mengenai langkah penanganan atas kejadian tersebut.
Warga berharap persoalan ini segera mendapat perhatian serius agar kenyamanan dan kesucian lingkungan masjid tetap terjaga.
Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar









