Aceh Barat Daya – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di Aceh Barat Daya kian memukul masyarakat. Setiap hari, antrean panjang kendaraan terlihat di sejumlah SPBU.
Sopir angkutan barang, nelayan, hingga petani mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam demi mendapatkan solar, bahkan tak jarang pulang dengan tangan kosong.
Solar menjadi komoditas langka yang menentukan hidup-mati aktivitas ekonomi warga. Banyak nelayan memilih tak melaut, petani menunda pekerjaan, dan sopir angkutan mengurangi ritase karena tak memiliki cukup BBM.
Namun di tengah krisis tersebut, pemandangan kontras justru terjadi di sejumlah lokasi pengolahan emas.
Mesin mixer pengolahan emas dilaporkan tetap beroperasi tanpa henti, menyala hingga tiga hari tiga malam, seolah kelangkaan solar tidak pernah terjadi.
Pantauan di lapangan menunjukkan mesin-mesin tersebut menggunakan diesel Dongfeng, mesin industri berkapasitas besar yang dikenal membutuhkan pasokan solar dalam jumlah besar dan stabil. Mesin jenis ini tidak dapat hidup dengan suplai terbatas atau tidak menentu.
“Mesin itu bukan mesin kecil. Kalau sudah hidup, tidak bisa dimatikan sembarangan. Butuh solar banyak dan terus-menerus,” ujar Ahmad seorang warga di Kecamatan Babahrot, Kamis (8/1/2026).
Kontras tersebut memicu kemarahan publik. Di satu sisi, masyarakat kecil dipaksa antre sejak subuh. Di sisi lain, mesin industri yang menopang aktivitas pengolahan emas tetap menyala siang dan malam.
Beberapa warga mengaku sering mendengar suara mesin diesel dari lokasi pengolahan emas hingga larut malam. Tidak ada tanda-tanda aktivitas tersebut melambat, apalagi berhenti.
“Solar langka itu cuma untuk rakyat. Untuk tambang, seolah tidak pernah habis,” ujar seorang sopir angkutan lokal, Darmawi.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar, dari mana asal solar yang digunakan mesin-mesin tersebut?.
Secara teknis, mesin mixer pengolahan emas berfungsi mencampur bijih emas dengan bahan kimia untuk melarutkan dan memisahkan emas dari material lain.
Proses ini membutuhkan tenaga besar dan waktu lama, sehingga mesin diesel harus bekerja terus-menerus.
Pengoperasian mesin selama berhari-hari jelas membutuhkan solar dalam volume besar. Fakta bahwa mesin tetap beroperasi di tengah krisis BBM membuat publik mempertanyakan transparansi distribusi solar di daerah ini.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak berwenang mengenai sumber BBM yang digunakan oleh mesin-mesin tersebut.
Namun satu hal tak terbantahkan, mesin industri tidak mungkin hidup tanpa pasokan solar yang terjamin.
Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar









