Banda Aceh – Anggota DPR RI Komisi VII dari Daerah Pemilihan Aceh I, Drs. H.T. Zulkarnaini Ampon Bang, mendesak pemerintah dan pihak terkait segera membongkar persoalan kelangkaan serta tingginya harga semen di sejumlah wilayah Aceh.
Ia menilai kondisi tersebut tidak sekadar menyangkut perdagangan, tetapi menyentuh kepentingan pembangunan dan pemulihan masyarakat Aceh setelah bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah pada akhir 2025.
“Yang menjadi pertanyaan kita sederhana: Aceh memiliki produsen semen di Lhoknga, tetapi mengapa masyarakat di sejumlah daerah justru kesulitan mendapatkan semen dengan harga yang wajar? Ini yang harus ada penjelasan secara konkret dan objektif,” ujar Ampon Bang, Selasa (11/8/2026).
Menurut informasi, harga semen ukuran 40 kilogram di sejumlah wilayah Aceh kini berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp85 ribu per sak.
Bahkan, harga di beberapa daerah mencapai Rp90 ribu hingga Rp110 ribu per sak.
Kondisi tersebut, kata dia, semakin membebani masyarakat yang tengah membangun dan memperbaiki rumah pascabencana.
Ampon Bang juga menyoroti kapasitas produksi PT Solusi Bangun Andalas.
Berdasarkan data, produksi perusahaan saat ini mencapai sekitar 3.700 ton per hari atau setara 92.500 sak.
Angka tersebut bahkan menunjukkan peningkatan dengan periode sebelumnya.
Sementara itu, kebutuhan semen di Aceh diperkirakan mencapai 4.200 ton per hari atau sekitar 105.000 sak.
Dengan demikian, terdapat selisih sekitar 500 ton atau 12.500 sak per hari antara kemampuan produksi dan kebutuhan pasar Aceh.
“Kalau produksi tidak turun, kita harus mencari tahu di mana masalahnya. Apakah di stok, distribusi, alokasi pasokan, transportasi, jaringan distributor, atau justru struktur pembentukan harga,” tegasnya.
Menurut Ampon Bang, masyarakat tidak boleh terus menanggung dampak persoalan tersebut tanpa mengetahui akar masalahnya.
Ia juga mempertanyakan disparitas harga semen antara Aceh dan Medan, Sumatera Utara.
Berdasarkan informasi yang diperolehnya, harga sejumlah merek semen di Medan pada awal Agustus berada pada kisaran Rp70 ribu hingga Rp75 ribu per sak.
Sementara di Aceh, harga sejumlah produk mencapai Rp80 ribu hingga Rp110 ribu per sak.
“Ini harus ada penjelasan secara ekonomi. Kita bukan daerah yang sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar. Kita punya pabrik semen di Lhoknga. Secara logika ekonomi, keberadaan produsen lokal semestinya dapat memperpendek rantai pasok dan menekan biaya distribusi,” katanya.
Ia mempertanyakan alasan harga semen di Aceh justru lebih tinggi dibandingkan daerah yang berada di luar Aceh.
Ampon Bang mengatakan pihaknya akan mendalami persoalan tersebut dengan melihat seluruh rantai pasok, mulai dari kapasitas produksi, stok, distribusi.
Hingg alokasi pasokan antarkabupaten/kota hingga struktur harga dari tingkat pabrik sampai pengecer.
“Saya ingin mendapatkan data. Berapa produksinya, berapa stoknya, ke mana distribusinya, berapa harga dari pabrik sampai distributor dan pengecer, serta apa penyebab harga di Aceh bisa berbeda dengan Medan,” ujarnya.
Selain itu, ia akan meminta penjelasan mengenai penambahan pasokan semen dari luar Aceh serta peningkatan jam operasional terminal pengisian semen.
Langkah tersebut, menurutnya, perlu diuji efektivitasnya dalam mengatasi kelangkaan di pasar.
Ampon Bang menegaskan persoalan semen harus segera mendapat solusi karena Aceh masih menjalani fase pemulihan pascabencana.
Kenaikan harga semen, kata dia, dapat meningkatkan biaya pembangunan, memperlambat rehabilitasi rumah warga, serta menghambat proses rekonstruksi.
“Jangan sampai masyarakat yang sudah terkena bencana kemudian menghadapi beban kedua berupa mahal dan langkanya bahan bangunan. Mereka sedang berusaha bangkit. Pemerintah, produsen dan seluruh mata rantai distribusi harus memastikan semen tersedia dan harganya wajar,” tegasnya.
Ia menilai pemerintah tidak cukup hanya mendorong peningkatan produksi.
Pemerintah juga harus memastikan produk tersebut sampai ke masyarakat dengan distribusi yang merata dan harga yang rasional.
“Kita harus melihat persoalan ini dari hulu sampai hilir. Kalau produksinya cukup tetapi masyarakat tetap sulit mendapatkan semen, berarti ada persoalan yang harus ketemu. Saya akan mendalami ini di lapangan dan meminta semua data secara transparan,” pungkas Ampon Bang.
Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar
























