Home / Nasional / Politik

Selasa, 22 April 2025 - 14:19 WIB

Golkar Buka Suara soal Penolakan Soeharto Jadi Pahlawan Nasional

mm Redaksi

Presiden Prabowo Subianto didampingi putranya Didit Hediprasetyo (tengah) berbincang dengan Wapres ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla dan Titiek Soeharto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (31/3).

Presiden Prabowo Subianto didampingi putranya Didit Hediprasetyo (tengah) berbincang dengan Wapres ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla dan Titiek Soeharto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (31/3).

Jakarta – Ketua DPP Golkar Hetifah Sjaifudian enggan bicara banyak soal penolakan yang muncul dari koalisi sipil terkait rencana mengusulkan mendiang Presiden ke-2 RI Soeharto menjadi pahlawan nasional.
Hetifah mengklaim tidak tahu terkait penolakan warga sipil tersebut.

“Saya kira, Kalau ada penolakan saya belum mendapatkan menerima (informasi),” kata Hetifah di Hotel Pullman, Jakarta, Senin (21/4) malam.

Di sisi lain, Hetifah menjelaskan usulan Soeharto menjadi pahlawan nasional dilayangkan oleh MPR Fraksi Golkar setelah melakukan pembahasan internal.

Salah satunya, usulan itu turut dibahas bersama Satkar Ulama Indonesia yang merupakan organisasi sayap Partai Golkar.

Baca Juga :  JAM-Pidum Setujui Enam Pengajuan Keadilan Restoratif

“Ya tentu kita menghargai usulan tersebut dan kami sebagai ya tentu saja bagian dari Golkar akan men-support apapun hal yang positif untuk kepentingan bangsa,” ujar dia.

Sebelumnya, Gerakan Masyarakat Sipil Adili Soeharto (GEMAS) menolak usulan Soeharto menjadi pahlawan nasional berdasarkan alasan yang logis dan patut yakni rekam jejak buruk dan berdarah Soeharto selama 32 tahun menjabat sebagai Presiden RI.

Soeharto, terang koalisi, telah melakukan kekerasan terhadap warga sipil, pelanggaran HAM bahkan pelanggaran berat terhadap HAM, penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan, serta praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Baca Juga :  Sambut Pesta Demokrasi Dengan Kegembiraan, Ini Pesan Dewan Masyarakat Adat Nusantara Aceh

Dilansir dari laman Kementerian Sosial, Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial bersama Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) membahas nama-nama yang akan diusulkan untuk diberi gelar Pahlawan Nasional. Nama Soeharto termasuk di dalamnya.

Terlebih, pasca-reformasi, negara pun telah mengakui rekam jejak berdarah dan buruk dari Soeharto berupa pelanggaran berat HAM, pelanggaran HAM, serta praktik KKN yang dituangkan dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (TAP MPR) No. IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999-2004 dan TAP MPR No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas KKN.

“Patut dipertimbangkan bahwa upaya dalam mendorong perbaikan situasi dan kehidupan bernegara pasca-rezim otoritarian orde baru sudah sepatutnya menjadi dasar dalam menyelenggarakan urusan negara dalam semangat anti-KKN, mengedepankan penguatan demokrasi dan rule of law, serta berpijak pada nilai HAM dan suri tauladan yang kesatria serta tidak memberikan toleransi kepada individu yang merugikan Negara Republik Indonesia,” ungkap KontraS, organisasi yang tergabung dalam Koalisi GEMAS.

Baca Juga :  Anne Sulistijadewi Ketum Laskar Bumi Pertiwi - LBP, Fokus Menangkan Pasangan Ganjar - Mahfud

“Hal ini penting demi hak dan harkat martabat keluarga korban pelanggaran berat HAM dan pelanggaran HAM yang menanti keadilan, serta masa depan generasi muda yang tidak menormalisasi kekerasan,” tambahnya.

Editor: RedaksiSumber: https://CNN%20Indonesia

Share :

Baca Juga

Nasional

World Water Forum di Bali Berjalan Aman, Polri Ucapkan Terima Kasih

Nasional

Mentan Amran Janji Pulihkan 89 Ribu Hektare Sawah Aceh Pascabencana Banjir Bandang

Politik

Sah! Eks Panglima GAM Aceh Barat Panglima Nadi Gabung PSI Aceh

Nasional

Menko Polkam Tinjau Kesiapan Huntap Korban Bencana di Aceh Utara, Target Rampung Sebelum Ramadan

Hukrim

Imigrasi Berperan Dalam Upaya Pencegahan TPPO dan TPPM

Kesehatan

Owner Cikarang Skin Center dan Rumah Cantik Dokter Ineke Bahas Penguatan Transparansi dan Akuntabilitas Pendanaan Riset Kesehatan

Nasional

Ditjen KSDAE melalui Balai KSDA Selamatkan Satwa Owa

Opini

Calon Walikota Harus Mempunyai Tujuan yang Jelas Serta Konsisten