Home / Hukrim / Internasional

Jumat, 6 Juni 2025 - 00:21 WIB

Mengaku dari Taspen, Sindikat Kamboja kuras Rp 304 Juta dari Ratusan Pensiunan PNS

mm Redaksi

Foto : Ilustrasi kantor Taspen.

Foto : Ilustrasi kantor Taspen.

Jakarta – Ditresiber Polda Metro Jaya membongkar kasus penipuan online dan ilegal akses jaringan Kamboja. Para pelaku menguras kantong ratusan korban hingga Rp304 juta.

Wadiressiber Polda Metro Jaya, AKBP Alvian Yunus mengungkap cara licik pelaku untuk mengelabui para korban.

“Pelaku di antaranya pertama melakukan social engineering terhadap calon korban. Kemudian yang kedua setelah berhasil menguasai korban, kemudian melakukan manipulasi terhadap informasi maupun data. Setelah memperoleh informasi maupun data, kemudian melakukan pembelian atau menyarankan untuk melakukan pembelian materai,” kata Yunus saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Kamis (5/6).

Kasubit Siber IV Polda Merto Jaya, Kompol Herman Eco Tampubolon menambahkan, korban kurang lebih sebanyak 100 orang yang merupakan pensiunan PNS.

Baca Juga :  Diduga Hendak Kerja di Kamboja, Polsek Amankan Dua Pemuda

“Hampir keseluruhan dari data korban kurang lebih 100 korban adalah merupakan pensiunan pegawai negeri sipil, korban-korban mayoritas PNS yang umurnya di atas 60 tahun,” ucapnya.

Herman menyebut, pelaku mengaku sebagai PT Taspen menghubungi korban dengan dalih pencairan dana pensiun bermasalah dan harus dilakukan crosscheck kembali. Pelaku kemudian mengirimkan sebuah file PDF yang berisikan data milik para korbannya.

Kepada korban, pelaku meminta agar file tersebut didownload dan mengisi formulir elektronik dan dikirim kembali. Tidak hanya itu, pelaku juga mengajak video call korbannya dengan alasan kebutuhan verifikasi.

Baca Juga :  Oknum Kapolda Lampung Diduga Terlibat Mengkriminalisasi Wilson Lalengke Cs

“Selanjutnya pelaku akan meminta berbagi layar, di dalam aplikasi WhatsApp itu ada menu untuk berbagi layar dengan alasan untuk memudahkan verifikasi yang dilakukan oleh mereka,” ucap Yunus.

Korban kemudian dipaksa mendownload aplikasi ilegal atas nama Taspen dan membuat akun. Bermodalkan dari aplikasi ilegal tersebut, pelaku dapat mengakses seluruh data milik korbannya.

Peran 3 Tersangka

Dari kasus ini, tiga orang pelaku sudah ditetapkan menjadi tersangka. Mereka masing-masing berinisial EC, IP, dan AM.

EC merupakan admin yang meregistrasikan akun WhatsApp dengan cara menerima OTP melalui SMS yang kemudian diberikan kepada pelaku yang ada di Kamboja.

Baca Juga :  Kantor Ditjen Minerba Kementerian ESDM di Geledah KPK

Sementara tersangka IP merupakan bendahara yang memberikan gaji kepada EC. Dia juga merangkap sebagai penerjemah di Kamboja.

Tersangka AM merupakan DPO yang merupakan otak dari kasus penipuan terhadap para nasabah PT Taspen itu.

“Tersangka merupakan warga negara Indonesia yang bekerja di negara Kamboja dan merupakan rekan kerja dari tersangka IP,” bebernya.

Untuk tersangka IP dan EC telah dilakukan penahanan dan disangkakan dengan pasal berlapis Undang-Undang ITE dengan denda maksimal Rp10 miliar dan pidana penjara selama 20 tahun.

Editor: Amiruddin. MK

Share :

Baca Juga

Internasional

Malaysia Tangkap pekerja Bangladesh Simpatisan ISIS

Hukrim

Agus ditangkap Personel Unit PPA Satreskrim Polresta Banda Aceh Usai Perkosa IRT

Hukrim

Janji Tindak Tegas, Kejagung Minta Masyarakat Tak Ragu Laporkan Jaksa Nakal

Internasional

Terkait Rohingya di Labuhan Haji, UNHCR Tingkatkan koordinasi dengan Kanwil Kumham Aceh

Hukrim

Kapolresta Tegaskan Pengobatan Ida Dayak di Banda Aceh Hoaks

Hukrim

Kejagung Lakukan Penyitaan Rp450 Miliar dalam Perkara PT Duta Palma Korporasi

Internasional

KBRI Phnom Penh Fasilitasi Pemulangan Jenazah WNI

Aceh Besar

Mutasi 31 Kajari oleh Jaksa Agung, Kajari Aceh Besar Jemmy Novian Dipromosikan ke Tasikmalaya