Banda Aceh – Kota Banda Aceh saat belum mampu meminimalisirkan produksi sampah dari jumlah sebelumnya. Sedikitnya 250- 280 ton perhari.
Dikutip dari data Dinas Lingingan Hidup Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3) Kota Banda Aceh menyebutkan sedikitnya ada dua sumber pemasok sampah terbesar hingga tahun 2026 ini.
Namun, rumahtangga merupakan pemasok utama denga jumlah sampah mencapai 60 persen dari jumlah total sampah di Banda Aceh perharinya.
Sampah yang dihasilkan dari rumahtangga terdiri dari berbagai jenis dengan dominan sampah sisa makanan.
“Produsen terbesar sampah di Banda Aceh adalah sektor rumah tangga yang menghasilkan lebih dari 60% dari total volume sampah, ” tulis Web site DLHK3 Kota Banda Aceh.
Selanjutnya, pemasok sampah yang tidak kalah besarnya dari sektor publik atau pasar. Dari sektor tersebut sampah berupa sisa penjualan para pedagang setiap harinya.
Dengan jenis dominan sampah yang dihasilkan berupa plastik dan sisa barang dagangan yang tidak dapat digunakan lagi akibat busuk.
“Pusat perbelanjaan, pasar tradisional, hotel, dan fasilitas publik turut menyumbang volume harian yang cukup signifikan. Sampah dari sumber-sumber tersebut bermuara dan dikelola di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gampong Jawa, ” demikian rilis Web Site tersebut.
Sementara untuk waktu dominan jumlah sampah meningkat terutama pada menjelang hari raya karena intensitas jumlah pengunjung pasar tradisional meningkat. Selain itu produksi sampah juga terjadi peningkatan sepanjang bulan puasa berlangsung.
Pada beberapa kesempatan Pemerintah Kota Banda Aceh mengharapkan dapat secepat mungkin beroperasi maksimal TPA Regional di Blang Bintang yang diyakini mampu menampung jumlah sampah yang ada, mengingat kapasitas data tampung TPA milik Kota Banda Aceh di Gampong Jawa telah melebihi kapasitas. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK











